Apa itu Cherry Picking? Bagaimana Contohnya di Keseharian Kita?

Cherry Picking

Mengenal Konsep Cherry Picking

Mungkin banyak dari kita kurang akrab dengan istilah Cherry Picking, apasih itu? jika dibahasakan mungkin berarti mengambil sebuah cherry, tetapi secara harfiah Cherry Picking merupakan salah satu dari kesalahan logika (logical fallacy). Hal ini terjadi apabila seseorang melakukan tebang-pilih terhadap data, fakta, ataupun jika seseorang menyampaikan sesuatu hal secara tidak lengkap yang menyebabkan hal tersebut mungkin saja benar tetapi juga menjadi kurang valid. Digambarkan seperti halnya saat kita mengambil sebuah cherry di atas sebuah kue ulang tahun, di mana hal tersebut dapat terjadi tanpa sadar tetapi tak jarang juga terjadi dengan penuh kesadaran kita. Mengapa? Karena kita sangat menyukai cherry dan itu menjadi bagian yang paling spesial pada kue itu.

Praktiknya kurang lebih menyerupai hal tersebut, terkadang kita mempunyai sederet data dan fakta, tetapi tak jarang kita mengambil data yang hanya mendukung keinginan ataupun keyakinan kita dan mengabaikan data dan fakta yang lain. Menariknya, kita mungkin saja tidak sadar sering berhadapan atau bahkan pernah melakukan aktivitas cherry picking. Walaupun pandangan kita sebagai manusia memang cenderung mengalami bias, namun kita dapat mengurangi hal tersebut dengan cara mempelajari dan mengenali konsep cherry picking ini.

Lalu pertanyaannya adalah, contoh Cherry Picking yang sering terjadi di sekitaran kita itu seperti apa sih?

1. Presentasi

Tak jarang kita baik sebagai pelajar, pengajar, ataupun peneliti melakukan Cherry Picking saat bertugas melakukan presentasi di depan ruangan. Terkadang, kita mempunyai tendensi terhadap topik bahasan yang diangkat.

Misalnya, kita memiliki preferensi politik kepada salah satu pemimpin daerah. Selepas ia terpilih, kejadian banjir di daerahnya tidak terlalu sering terjadi, padahal kamu tau bahwa akhir-akhir ini jarang terjadi hujan, namun kamu tetap menyimpulkan data itu sebagai kesuksesan pemimpin daerah tersebut dalam mengelola kebijakan publik. Hadeeh jangan sampai kamu terjebak dalam hal ini ya, nanti kamu malah dianggap cebong-kampret belaka.

Sebenarnya bukan menjadi masalah jika kita memiliki argumen atau memiliki sudut pandang tertentut dalam penyelesaian masalah, tetapi akan lebih baik jika kita mengolah dan menguraikan data yang ada  dengan cukup lengkap.

2. Penelitian

Nah mungkin kita sering melakukan penelitian dengan metode cherry picking tetapi belum sempat kita sadari, namun sialnya bias ini sering menjadi kebiasaan kita. Dalam melakukan penelitian, tak jarang sebuah penelitian dilakukan secara by request. Misalnya terjadi ketika terdapat penelitian terkait elektabilitas paslon atupun partai tertentu ketika mendekati pemilihan umum. Tak jarang, penelitian tersebut mengambil data yang menguntungkan salah satu paslon atapun partai terkait yang memesan penelitian tersebut.

Selain itu hal ini sering terjadi ketika kita menjalankan penelitian untuk tugas akhir (skripsi). Tak jarang, simpulan sudah kita miliki terlebih dahulu sebelum kita melakukan penelitian dan melihat datanya. Misalnya, dalam teori, pertumbuhan ekonomi dapat menurunkan tingkat kemiskinan di suatu daerah. Tetapi, setelah dilakukan analisis melalui data yang didapat, menunjukkan hasil yang sebaliknya yaitu pertumbuhan ekonomi naik, tetapi tingkat kemiskinan tidak berkurang secara signifikan atau malahan ikut naik.

Biasanya mahasiswa jika menemui kejadian seperti ini cenderung akan mencari data-data yang bagus –sesuai teori saja, mulai dari menambahkan tahun, mengganti daerah, menambahkan variabel, atau bahkan ganti judul *loh.

Padahal, kejadian yang tidak sesuai teori tersebut wajar adanya, bagaimanapun sebuah teori dibangun melalui serangkaian data dan pola kejadian di masa lalu, di mana dengan kejadian yang banyak tersebut membentuk pola yang seragam dan akhirnya dapat disimpulkan untuk menjadi teori.

Kasarannya nih ya, hampir semua orang kalau makan banyak itu bikin gendut, nah hal itu menjadi teori bahwa makan banyak mempengaruhi peningkatan berat badan. Tapi bukan berarti enggak ada dong kejadian yang enggak sesuai dengan teori tersebut dong, misalnya temen-temen kita yang porsi makannya biasa dikenal dengan Portugal — Porsi Tukang Gali – alias banyak, tapi enggak gendut-gendut, pasti ada kan?

Nah hal ini justru bisa membuat penelitianmu jadi menarik, karena kamu mendapatkan sebuah penelitian yang unik (Non-Ordinary), kamu dapat mencari alasan seperti mengapa hasil penelitianmu bertentangan dengan teori yang sudah ada? apakah pertumbuhan ekonomi dapat terserap ke lapisan masyarakat bawah atau pertumbuhannya hanya terjadi di kalangan kelas atas? Mengapa temanmu makan banyak tetapi tidak meningkat berat badannya, apakah itu faktor genetik, atau dia cacingan?” Canda cacingan hehe.

3. Dalam Memandang Suatu Hal

Tak jarang dalam memandang segala hal pun kita mengalami bias cherry picking tersebut. Misalnya saja ketika kita melihat beberapa orang dalam ras ataupun suku tertentu mempunyai stigma sebagai “orang yang pelit”, nah mungkin banyak dari kita langsung men-judge semua orang yang merupakan ras ataupun suku tersebut memang pelit adanya, padahal belum tentu semua orang di dalam ras dan suku tersebut bersifat sama mutlak loh!

4. Dalam Hubungan percintaan

Nah ini juga sering kejadian nih, bener kata liriknya @agnezmo “Cinta ini, kadang-kadang tak ada logika”, kita juga mungkin sering banget cherry picking menyoal percintaan. Kita mudah menyimpulkan bahwa “cowok ataupun cewek itu semua sama aja” ketika kita disakitin, atau menganggap semua hubungan LDR itu pasti gagal, ehem, padahal belom tentu kan hehe.

Lalu mengapa mengetahui cherry picking ini penting? Karena hal ini berguna untuk membangun dasar pemikiran kita. Bagaimana menjauhkan kecenderungan ini membuat kita dapat jujur terhadap data dan kejadian yang ada, dan sedikit dapat mengurangi bias dari preferensi sudut pandang kita. Tetapi yang paling penting sih biar kita enggak keseringan bilang “semua cowo/cewe sama aja! hehe”.

Proof: Dimas Wahyu Pratama
Sumber gambar: https://www.pexels.com/@tim-douglas

About the author

Weka Kanaka
Weka Kanaka
Kontributor Tetap at ID Student Outlook

Baru saja menyelesaikan Studi S1 Ekonomi Pembangunan di tahun 2020, dan sedang bersemangat-semangatnya untuk mencari pekerjaan, namun naas corona sedikit mengubur hasratnya. Akhirnya memutuskan mengisi waktunya berproduktif sembari belajar dengan cara mengelola platform ID Student Outlook.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *