Mengapa Orang Miskin Susah Kaya? dan Mengapa Tips Menjadi Kaya Tak Selalu Mudah

Orang Miskin Cepat Kaya

Source: Facebook.com/AminRichmanReal

Belakangan ini, kemiskinan masih banyak terjadi tak peduli percepatan laju dan liberalisasi ekonomi. Orang-orang bebas mengejar kekayaan tanpa ada halangan apapun –katanya. Tapi,  hal itu banyak dibuktikan pula oleh segelintir anak muda berbakat dan penuh kerja keras yang berhasil mendapatkan kue ekonomi secara berlimpah. Contohnya saja belakangan ini sudah banyak anak muda yang menjabat sebagai CEO ataupun petinggi-petinggi di sebuah perusahaan.

Tokoh-tokoh muda tersebut banyak yang menceritakan dengan semangat akan kisah kesuksesan mereka. Selain mereka, ada juga beberapa motivator muda nan-ulung yang turut memberi tips agar kaya dan sukses secara cepat. Tentunya dengan cara yang telah mereka jalani, dan biasanya tipsnya tak jauh-jauh seputar kerja keras, konsistensi, rajin, dan pantang menyerah.

Memang, dengan menggunakan prinsip tersebut bukan tidak mungkin seseorang bisa mendapatkan kesuksesan ekonomi, terbukti dengan mereka-mereka yang telah berhasil meraihnya. Tetapi mereka perlu paham bahwa ‘Kemiskinan’ merupakan masalah yang kompleks, yang tak bisa sepenuhnya terselesaikan dengan cara-cara yang teknis dan faktornya pun beragam baik dalam diri seseorang maupun di luar kuasanya.

Contohnya saja perdebatan dan solusi ekonomi selalu dirumuskan berulang-ulang, kemiskinan di banyak negara masih terjadi hingga dekade ataupun tahun-tahun belakangan ini, yang turut menunjukan bahwa permasalahan kemiskinan tidak bisa disimplifikasi atau tidak se-simpel tutorial membuat dalgona coffee, yang walau begitu masih ada beberapa orang yang gagal—terlebih cara menjadi kaya yang memang kompleks.

Kalau kita melihat tips-tips menjadi kaya lebih dimiripkan seperti orang yang sedang insomnia dan mencoba menonton tutorial tidur di Youtube. Kita semua paham cara tidur ialah memejamkan mata, tapi bagi orang yang terserang insomnia, hal itu hampir tidak berguna sama sekali.

Adapun saya coba uraikan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam konsep pengentasan kemiskinan baik itu berguna untuk pemberi motivasi agar tidak sempit, dan juga berguna untuk khalayak umum agar tidak mengambil kesadaran palsu—bahwa kaya itu mudah

Lingkaran Setan Kemiskinan (Vicious Circle of Poverty)

PERMINTAAN. PENAWARAN. produktivitas rendah. pendapatan rendah. permintaan rendah. investasi rendah. kurang modal. Produktivitas rendah. tabungan rendah. investasi rendah. kurang modal.

Dalam ekonomi sendiri ada dua aliran yang terkenal yaitu aliran Permintaan (Demand Side) dan aliran Penawaran (Supply Side) yang di mana kedua aliran tersebut juga memiliki konsep mengenai hal ini, dan mempunyai kesimpulan yang sama.

Lingkaran Setan Kemiskinan (Vicious Circle of Poverty) menjelaskan bahwa orang yang dalam level ekonomi tertentu, akan cenderung berputar-putar di sekitaran level ekonomi tersebut, terkhusus dalam hal ini orang yang berada pada ekonomi yang lemah menyebabkan orang itu tidak mempunyai daya untuk keluar dari lingkarannya.

Kue Ekonomi apakah dapat selalu melebar?

Source: Facebook.com/selasar.com

Singkatnya, kue ekonomi dapat diibaratkan seperti hasil perekonomian yang dapat kita nikmati, baik itu lingkupnya dunia maupun negara. Jadi ialah kapasitas hasil ekploitasi bumi yang angkanya dapat kita nikmati semua orang.

Untuk orang-orang yang berada dalam kemiskinan, pastinya dia hanya mendapat remahan dari kue ekonomi. Berbeda dengan orang-orang yang memiliki kemakmuran yang baik, pastinya mereka menikmati kue ekonomi lebih besar dari orang miskin.

Yang jadi pertanyaannya adalah, apakah kue ekonomi dapat selalu melebar tiap saat? Sumber Daya khususnya alam yang diekploitasi untuk memperbesar kue ekonomi apakah masih banyak yang tersedia? Apakah dengan kue upaya pelebaran kue ekonomi akan semakin menguntungkan atau menimbulkan kerugian besar seperti misalnya, kerusakan alam?

Selagi kue ekonomi tidak dapat melebar, kecil kemungkinan ada perbaikan ekonomi bagi masyarakat miskin, kecuali dengan meratakan distribusi kue— yang pastinya lebih sulit.

Apakah Orang Dengan Rela Melepas Hegemoninya?

Source: http://youtube.com/SciShow%20Psych

Apabila kue ekonomi tidak dapat bertambah besar setiap waktu, pastinya pilihan dalam pemerataan kekayaan adalah baik distribusi ekonomi ataupun disrupsi ekonomi. Di mana kedua-duanya turut mengurangi aset bagi orang-orang kaya yang mempunyai aset di atas rata-rata.

Petenis Hebat Jimmy Connors pernah melontarkan ucapannya yang terkenal “I hate to lose more than I love to win.” Hal ini juga pernah dijelaskan oleh Profesor Daniel Kahneman dari Princeton Woodrow Wilson School (sekaligus pemenang Hadiah Nobel Memorial untuk Ekonomi 2002), penelitiannya menyebutkan ada kecenderungan untuk seseorang lebih tidak suka akan kehilangan, bahkan lebih dari tambahan kenikmatan/bonus walau seseorang mendapatkan jumlah yang sama.

Yang artinya seseorang yang sudah berada dalam hegemoni ataupun status quo (Kondisi yang ada saat ini) — kemapanan ekonomi, tentunya mereka tidak menginginkan kehilangan dari kue ekonomi yang mereka punya. Turut menjelaskan bahwa mereka akan berusaha menjaga asetnya, baik dengan usaha ataupun kemampuan modal mereka yang di atas rata-rata.

Penurunan Angka OKB “Orang Kaya Baru”

Source: Provoke-online.com

Pada bukunya “Sapiens” Noah Harari menjelaskan bahwa ada penurunan pertumbuhan Orang Kaya Baru – OKB, di tiap dekade. Bahwa orang kaya baru di periode 1990 lebih sedikit dari pertambahan di periode 1980, begitupun orang kaya baru di periode 2000 lebih sedikit dari pertambahannya di 1990, begitupula pada 2010 terhadap 2000.

Dengan temuan ini turut menjelaskan bahwa penambahan kue ekonomi setiap waktu sulit dilakukan, dan bukan tidak mungkin akan menemui batasannya. Hal ini juga sekaligus menggambarkan bahwa potensi seseorang untuk menjadi kaya, akan sangat sulit seiring berjalannya waktu.

Mengenal Apa Itu Ketimpangan

Source: Shutterstock.com

Dalam ketimpangan harus dipahami masing-masing orang mempunyai privilege yang berbeda-beda, bahkan ada anekdot yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, walau tetap ada yang dapat menembus hal itu.

Untuk mencapai kekayaan, perlu disadari setiap orang tidak memulainya dari titik yang sama. Orang yang lahir dalam ekonomi yang mapan, makanan dan kesehatan yang layak, pendidikan yang tinggi, turut meningkatkan peluang mereka untuk mencapai kesuksesan ekonomi. Selain itu orang-orang yang kurang beruntung tidak dapat menikmati fasilitas tersebut, yang berarti mereka perlu usaha yang sangat-sangat ekstra, atau bahkan terkadang utopis untuk mengejar ketertinggalan mereka. Paling tidak butuh waktu beberapa generasi yang memiliki mental dan etos yang kuat untuk menyamakan posisi mereka dengan orang-orang kaya.

Sehingga tips-tips ataupun motivasi untuk mencapai kesuksesan ekonomi, bukan berarti tidak pernah dijalankan oleh seseorang yang belum mencapai titik tersebut.

Adakah Faktor Keberuntungan?

Kita sering kali memungkiri bahwa terkadang ada salah satu faktor keberuntungan kita dalam mencapai kesuksesan. Kebanyakan kita lebih senang mengakui bahwa kue yang banyak tersebut semata-mata karena hasil keterampilan, kepintaran, kecerdasan dan kerja keras kita.

Padahal kita juga paham bahwa banyak orang kaya yang kemampuannya biasa-biasa saja. Kasus nyatanya belakangan ini dapat terlihat dari banyaknya orang yang  skill-nya biasa saja namun mereka beruntung hingga tetiba viral, ehem “bukan boneka”. Dan mengapa orang-orang terpintar di dunia bukanlah mereka yang masuk kategori kelompok masyarakat paling kaya?

Menurut kajian yang dilakukan oleh dua orang fisikawan Italia, Alessandro Pluchino dan Andrea Rapisarda, serta ekonom Alessio Biondo, mereka mendapatkan kesimpulan bahwa orang tersukses ialah orang yang paling banyak memiliki keberuntungan.

Tiga peneliti asal Italia tersebut menciptakan dunia imajiner yang dihuni seribu orang dengan tingkat keterampilan berbeda. Mereka secara acak dihadapkan pada keberuntungan dan peristiwa sial. Di awal simulasi, setiap orang memiliki modal 10 unit. Serta karakteristik seperti kecerdasan, keterampilan, dan kerja keras mempengaruhi kemungkinan mereka mengubah kesempatan menjadi modal.

Lalu setelah 40 tahun distribusi kekayaan mulai tak merata, layaknya di dunia nyata. Hipotesis mereka pada awalnya mengasumsikan orang berbakat atau lebih cerdas yang paling sukses. Namun hasil penelitian menyebutkan bahwa orang paling sukses justru mereka yang tak begitu pintar atau berbakat, tapi memiliki banyak kemujuran.

Namun, bukan berarti kekayaan merupakan utopia bagi sang miskin, tentunya hal tersebut masih bisa dicapai, tetapi banyak faktor di luar diri seorang manusia yang turut mempengaruhi, bahkan tak jarang memiliki pengaruh lebih besar dari faktor internal dalam diri mereka.

Sumber:

Sapiens, Cetakan Kedua Belas 2020, Yuval Noah Harari.

https://www.bbc.com/indonesia/vert-cap-43722281
https://economicsconcepts.com/

About the author

Weka Kanaka
Weka Kanaka
Kontributor Tetap at ID Student Outlook

Baru saja menyelesaikan Studi S1 Ekonomi Pembangunan di tahun 2020, dan sedang bersemangat-semangatnya untuk mencari pekerjaan, namun naas corona sedikit mengubur hasratnya. Akhirnya memutuskan mengisi waktunya berproduktif sembari belajar dengan cara mengelola platform ID Student Outlook.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *