Memelihara Nalar di Tengah Pandemi: Apa dan Bagaimana

Mikir

Source: Pexels-Cottonbro

Pandemi Covid-19 kali ini sudah barang tentu berdampak buruk bagi semua kalangan. Sulit bagi pelajar maupun mahasiswa, sulit bagi guru maupun pedagang kaki lima, sulit bagi orang kaya apa lagi bagi masyarakat miskin yang sudah sulit kehidupannya sebelum pandemi. Bagi kawan-kawan pelajar dan mahasiswa, pasti sudah mengalami berbagai macam kesulitan semenjak pemerintah mengumumkan kondisi darurat pandemi 2 bulan lalu.

Berbagai kesulitan seperti kendala belajar secara daring dirasa paling sering diperbincangkan. Dari perkuliahan dan pembelajaran secara daring yang tidak maksimal sampai kendala teknis seperti jaringan internet yang tidak stabil. Kalau ingin dijabarkan, bisa panjang nih tulisan ini hihi. Tapi tahu kah kawan? Ada juga kesulitan yang mungkin tidak terasa langsung tapi penting bagi kehidupan terutama pembelajaran di jaman sekarang. Kali ini, penulis ingin menjabarkan secara singkat, memberi jawaban serta sedikit mencurahkan isi hati hehe. Ya seperti kawan sudah baca di judul, tulisan ini terkait erat dengan nalar atau penalaran.

Secara singkat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nalar memiliki definisi “pertimbangan tentang baik buruk dan sebagainya; akal budi; aktivitas yang memungkinkan seseorang berpikir logis.” Nah, definisi terakhir yang isinya aktivitas berpikir logis ini lah yang penting juga erat dengan kehidupan kawan-kawan pelajar dan mahasiswa.

Dalam pembelajaran baik di sekolah mau pun di kampus, kebanyakan sudah meninggalkan kebiasaan proses pembelajaran yang tradiosional, yang hanya berpusat pada guru atau biasa disebut teacher-centered. Proses pembelajaran tradisional ini yang biasanya guru atau dosen menjelaskan di depan kelas seperti ceramah (padahal muridnya ngantuk atau mainan hape) lalu diberi tugas untuk evaluasi. Metode yang kurang efektif ini lalu diganti dengan model pembelajaran HOTS atau High Order Thinking Skills yang memiliki beberapa aspek antara lain critical thinking, problem solving, decision making, dan creative thinking. Nah, empat aspek ini sangat terkait erat dengan pembelajaran kawan-kawan dewasa ini. Oleh karena itu, kemampuan menalar sangat penting bahkan bisa dibilang sebagai “senjata dan bekal” untuk “berlayar” selama pembelajaran.

Selama pandemi, penulis banyak membaca keluhan kawan-kawan baik secara langsung maupun lewat media sosial. Keluhan semacam pikiran stuck saat menyusun skripsi, kesulitan menelaah tugas kuliah karena kebanyakan rebahan di rumah, dan berbagai keluhan lainnya. Ini bisa jadi dikarenakan kurang efektifnya kuliah dan belajar daring yang juga sangat berbeda apabila bertatap muka secara langsung. Oleh karena itu, tidak hanya di masa pandemi, kemampuan menalar serta berpikir kritis harus senantiasa diasah terus-menerus.

Trus, gimana dong cara ngasahnya?

Tenang, di tengah keadaan yang serba menyulitkan ini, penulis mencoba memberikan beberapa solusi yang mudah untuk kawan-kawan tetap bisa berpikir kritis. Cukup hanya bermodal hape atau laptop loh.

1. Perbanyak Input Informasi

Input informasi ini bisa berbagai macam bentuknya mulai dari film, video, postingan sosmed, tulisan ilmiah, berita, dan bahkan hoax loh. Nah, input-input ini bisa menjadi “bahan” untuk kita telaah selanjutnya, baik secara mandiri atau didiskusikan dengan kawan-kawan yang lain.

Terutama untuk hoax nih, untuk generasi Z yang sudah menjadi internet native dan terbiasa berpikir kritis *harusnya sih hihi, sangat seru untuk dicari kebenarannya dengan cara kroscek secara daring juga jadi bahan diskusi serta bahan debat bersama rekan sejawat. Dengan catatan nih, jangan sampai berantem beneran ya habis berdebat.

2. Berdiskusi

Seperti yang sudah disampaikan di poin nomor 1, diskusi adalah langkah selanjutnya untuk tetap berpikir kritis. Sederhananya sih ya sebagai makhluk sosial, interaksi antar manusia sangat penting untuk kehidupan kawan-kawan sekalian.

Dalam konteks berpikir kritis, berdiskusi (juga berdebat) bisa jadi ajang bertukar pikiran, menyampaikan pendapat, hingga menyanggah pendapat lawan bicara. Dalam kehidupan akademik terutama di perkuliahan, ini sama dengan yang disebut peer review, salah satu aspek penting dalam menyusun karya ilmiah.

Berdiskusi juga bisa lewat media apa saja. Sosial media, aplikasi pesan instan seperti WhatsApp, seminar daring atau webinar (seperti webibar yang diadakan idstudentoutlook.com nih), video call, atau bahkan bertemu langsung loh dengan catatan tetap mengikuti protokol kesehatan seperti menjaga jarak aman dan memakai masker ya.

Jadi, walau musim pandemi begini, kawan-kawan tetap menjadi generasi yang bernalar dan senantiasa berpikir kritis. Musim pandemi juga kadang menjadi ladang subur bagi para penyebar hoax nih. Dengan bekal kemampuan berpikir kritis, kita bisa kok jadi penghalau berita-berita ngawur yang senantiasa berseliweran di sosial media dan juga di grup WhatsApp keluarga.

Ya idealnya kita bisa menyaring mana informasi benar mana informasi ngaco. Juga, kalau berani, kita harusnya bisa menyanggah informasi hoax tersebut segera setelah informasi itu muncul di grup WhatsApp keluarga, bahkan apabila yang menyampaikan itu pakde atau bude kita sendiri. Atau, ya minimal di masa depan nanti, kita tidak jadi generasi yang doyan nge-share informasi hoax seperti yang marak terjadi di banyak grup WhatsApp keluarga hehe.

About the author

Dimas Wahyu Pratama
Kontributor Tetap at ID Student Outlook

Dimas Wahyu Pratama, S.Pd atau lebih dikenal dengan Dimas adalah salah satu penulis tetap di ID Student Outlook. Bujangan yang cukup dikenal di prodi B. Inggris UMM ini sedang dalam proses mencari jati diri. Berbagai macam pekerjaan sudah beliau geluti dari menjadi penerjemah, staf administrasi kampus hingga sesekali menulis seperti sekarang ini. Semoga segera menemukan apa yang beliau cari.

1 thought on “Memelihara Nalar di Tengah Pandemi: Apa dan Bagaimana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *