Tidak Apa-Apa Tidak Produktif di Saat Pandemi, Kita Semua Bukan Deddy Corbuzier

Kata “produktif” atau “produktivitas” sangat dielu-elukan terutama di momen pandemi Covid-19 seperti ini. Banyak orang…

Tidak Produktif

https://www.pexels.com/@lhairtonfoto


Kata “produktif” atau “produktivitas” sangat dielu-elukan terutama di momen pandemi Covid-19 seperti ini. Banyak orang berlomba-lomba menjadi manusia paling produktif di dunia. Terkadang, bagi yang merasa kurang produktif, sering kali diselimuti rasa minder bahkan rasa bersalah.

Berbagai macam kegiatan yang disebut-sebut produktif dilakukan masyarakat sekarang ini. Dari menanam tanaman, memelihara ikan, berolahraga seperti bersepeda, dan masih banyak kegiatan lainnya. Banyak masyarakat memiliki pembenaran untuk berkegiatan produktif. Argumentasi seperti menghilangkan “kegabutan”, menambah penghasilan, hingga diniatkan karena ingin sukses seperti Jack Ma, sesuai dengan yang “dipropagandakan” oleh motivator di televisi atau Youtube.

Ngomong-ngomong soal Youtube, penulis melihat banyak sekali konten-konten yang menarik. Berbagai konten dari yang benar-benar produktif seperti tutorial bercocok tanam hingga yang kontra-produktif seperti membagikan sembako sampah pada transpuan oleh Ferdian Paleka. Dari berbagai konten ini juga bisa disimpulkan bahwa Youtube, terutama di jaman sekarang, telah menjadi alternatif sumber hiburan dan informasi yang mudah dan murah selain televisi.


Dalam dunia per-Youtube-an, penulis pribadi akhir-akhir ini sering melihat salah satu channel yang bolak-balik muncul di linimasa sosial media. Mungkin juga kawan-kawan tau channel yang satu ini. Channel ini memiliki jenis konten talkshow dengan nuansa podcast yang dimoderatori oleh Dedi Cahyadi atau lebih dikenal dengan Deddy Corbuzier.

Bahkan menurut penulis, Deddy Corbuzier ini bisa disebut sebagai Youtuber paling produktif di masa pandemi ini. Tak hanya dengan topik terkait pandemi, topik semacam masalah pribadi juga beliau eksploitasi eh maksudnya dijadikan bahan diskusi. Sebut saja wawancara-wawancara beliau yang viral seperti dengan dr. Tirta terkait pandemi, permasalahan keluarga Krisdayanti, hingga wawancara yang disebut-sebut *ekhem* ilegal di lapas dengan Siti Fadilah Supari terkait konspirasi.

Berbagai video beliau yang selalu mondar-mandir di linimasa, seperti membuat penulis minder. Seolah ada pergolakan batin dalam diri penulis seperti “Noh Deddy aja bisa produktif. Elu kapan? Jangan cuma rebahan”. Namun, penulis sebagai kaum rebahan, tidak mau selalu berkecil hati.

Setidaknya, ada berbagai argumentasi bahwa sejatinya belum produktif di masa seperti ini tidak apa-apa loh. Mungkin ada yang akan bilang ini sebagai “pembenaran” untuk terus rebahan tapi penulis akan persilakan kawan-kawan untuk menafsirkan sendiri. Hehe.

1. Istirahat
Tahun 2020 ini bisa kawan-kawan gunakan sebagai waktu istirahat. Mungkin tahun sebelumnya kawan-kawan sudah melewati berbagai kesulitan serta kesibukan. Oleh karena itu, istirahat adalah salah satu alternatif yang bijak. Pengalaman penulis sendiri sih memang sepanjang 2019 digunakan untuk fokus mengerjakan skripsi yang seolah-olah tiada akhirnya. Alhamdulillah, semua terbayar lunas dengan wisuda di akhir bulan Februari. Nah, karena pandemi, penulis akhirnya bisa beristirahat untuk sementara sebelum dijejali kesibukan di dunia kerja. Hehe.

2. Tidak Latah
Tidak latah di sini maksudnya kita tidak sekedar mengikuti tren. Biasanya sih, kalau hanya sekedar mengikuti suatu tren yang sedang hype di masyarakat, itu hanya sekadar ikut saja, tidak ditekuni. Mungkin bisa dibilang cenderung tidak ingin ketinggalan jaman. Contohnya saja tren bersepeda akhir-akhir ini. Banyak yang bersepeda hingga membeli sepeda baru hanya sekadar demi eksistensi di sosial media tanpa diniatkan untuk menjaga kebugaran misalnya. Nah, apabila kasusnya seperti ini, tujuan ingin produktif yang diniatkan di awal bisa jadi tidak tercapai. Baiknya memang jika ingin produktif, ya harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

3. Kontemplasi
Sederhananya, masa pandemi seperti sekarang ini bisa digunakan untuk merenung. Kawan-kawan boleh merenungkan apa saja dari asmara, rencana kehidupan ke depannya, kegiatan produktif apa yang ingin digeluti, hingga bagaimana cara berkontribusi untuk kemaslahatan umat. Merenung mungkin terdengar sangat sepele namun sejatinya bisa sangat krusial terutama sebelum mengambil keputusan-keputusan penting. Poinnya adalah di masa pandemi ini tidak ada salahnya untuk sekadar merenung, berkontemplasi atau berdiskusi.

Memiliki kegiatan produktif memang baik tapi apabila masih belum bisa atau belum menemukan kegiatan produktif juga tidak ada salahnya. Dengan poin-poin di atas semoga bisa mengurangi sedikit rasa bersalah kawan-kawan sekalian. Perlu diingat, ada kalanya memang manusia perlu berhenti sejenak, tidak perlu memaksakan. Semoga kawan-kawan segera menemukan kegiatan yang benar-benar ingin ditekuni, tidak hanya demi eksistensi berbentuk Instagram story.

About the author

Dimas Wahyu Pratama
Kontributor Tetap at ID Student Outlook

Dimas Wahyu Pratama, S.Pd atau lebih dikenal dengan Dimas adalah salah satu penulis tetap di ID Student Outlook. Bujangan yang cukup dikenal di prodi B. Inggris UMM ini sedang dalam proses mencari jati diri. Berbagai macam pekerjaan sudah beliau geluti dari menjadi penerjemah, staf administrasi kampus hingga sesekali menulis seperti sekarang ini. Semoga segera menemukan apa yang beliau cari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *