Seni Menyikapi Obrolan Basa-basi yang Menurut Sebagian Orang Tak Mengenakkan

Seni Menghadapi basa basi

Tak seperti namanya, budaya basa-basi ialah budaya yang sampai saat ini tidak pernah basi di Indonesia.

Nyatanya budaya ini telah mengakar kuat di kultur masyarakat kita. Yang mana basa-basi sering terjadi ketika kita dihadapkan di sebuah acara bersama teman sekolah, keluarga, ataupun ketika kita tak sengaja berpapasan dengan kerabat yang telah lama tidak kita jumpai.

Namun belakangan ini banyak dari kita yang menguraikan keluhnya di Internet terkait kebiasaan basa-basi yang tidak mengenakkan. Hal itu sering terjadi karena topik yang diangkat dalam basa-basi ini dianggap oleh sebagian pihak sebagai obrolan yang menjengkelkan, ataupun tak jarang men-trigger seseorang.

Misalnya saja ketika kamu yang saat ini sedang menempuh skripsi kemudian dengan sengaja ataupun tidak, bertemu dengan teman sebaya atau pun yang sudah melewatinya. Yang sering terjadi pastinya temanmu menanyakan sejauh mana progres dari skripsi yang sudah kamu kerjakan, dan biasanya kamu malah badmood dan kesal seketika.

Kasus lain yang sering terjadi pula ketika kamu saat ini belum mendapatkan pekerjaan, banyak dari kita yang seketika minder, malas bertemu dengan orang lain, hingga mengucilkan diri sendiri di rumah agar tidak ditanya sudah kerja belum?

Basa-basi pun tak jarang menyentuh obrolan lain misalnya kondisi perawakan kita, seperti rambut, warna kulit, berat badan. Pastinya kamu bakal sering mendapatkan ucapan “Ya ampun dah lama gak liat, kok sekarang gendutan sih?” khususnya bagi kamu yang akhir-akhir ini mempunyai badan yang cukup berisi, padahal dulunya kamu dikenal sebagai orang yang cukup slim.

Tapi sayangnya banyak dari kita yang agak sensitif terhadap obrolan singkat ini.

Hei, padahal menurut penulis hal ini lumrah saja, hal tersebut dikarenakan temanmu yang jarang bertemu ini melihat perubahan drastis yang terjadi di dirimu. Kamu juga pastinya sudah tau akan hal ini bukan? tapi mengapa mesti menyangkal pendapat orang lain?

Selain itu karena basa-basi itu terkait relevansi, yang mana menanyakan kabar, kondisi, rupa, kesehatan, alamat tempat tinggal, kesibukannya, pendidikan, pekerjaan dan tetek bengek kondisi saat ini, merupakan hal yang masih dapat diwajarkan, kecuali kalau baru ketemu langsung nanyain umur 25 udah punya duit berapa?

Selain itu kamu juga perlu memperhatikan hal-hal berikut ini yang menjadi alasan bahwa pembicaraan basa-basi itu merupakan hal yang wajar-wajar saja.

1. Susah Mencari Topik Ketika Sudah Lama Tidak Bertemu

Kalian yang protes mungkin aja gak pernah ngerasain sesulit itu untuk mencari topik obrolan, terlebih ketika dirimu bertemu dengan teman lama yang sudah tidak pernah kamu temui, obrolan apa yang akan kamu lemparkan ketika kamu saat ini sudah tidak memahami kepribadian dirinya, atau juga interest yang dia tekuni saat ini?

Tidak mungkin juga dong langsung kita serbu dengan obrolan berat seperti “eh tatanan dunia mulai runtuh ya gara-gara sunda empire diacak-acak” atau “orang-orang indonesia kenapa masih percaya logika ya, kenapa gak materialistik kayak yang diajarin marx atau tan malaka?” “marx saha ieu???”

Susah bukan? maka dari itu, basa-basi juga berperan sebagai obrolan dasar untuk mengetahui kondisimu saat ini, bukan untuk menghakimimu.

2. Basa-basi Itu Terkait Relevansi

Nah pertanyaan basa-basi juga itu terkait relevansi, di mana saat kamu berada di fase ngerjain skripsi pastinya ditanyain tentang progress skripsi, enggak mungkin ditanyain progress mengasuh anak (kecuali kalo emang kamu sudah punya anak). Ketika kamu sudah lulus, pastinya kamu bakal ditanya terkait gimana kamu menjalankan karirmu dan lain sebagainya.

Jadi biasa saja, ini hanya sekedar obrolan santai yang gak harus membuat kamu jadi overthinking.

3. Evaluasi Deh, Apa Kita Gak Pernah Basa-basi Seperti Itu?

Lalu kamu juga perlu mengevaluasi dirimu nih, walau kamu gak suka basa-basi yang menyangkut body shamming misal, tapi apa gak pernah kamu melakukan hal tersebut ketika sedang basa-basi saat bertemu dengan teman lamamu yang tidak pernah kamu temui?

Karena celetukan yang kamu lontarkan mungkin aja gak jauh dari first impressionmu saat itu dan merupakan luapan kita sesaat.

4. Membiasakan Diri dan Mewajarkan Kepada Hal Yang Gak Bisa Kita Kontrol

Selain itu kita juga mesti membiasakan diri dan mewajarkan kepada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol, atau bahasa kerennya kita sebut sebagai upaya menerapkan nilai-nilai stoicism. Yang mana perlu kita sadari kalau pembicaraan yang dikeluarkan dari mulut dan pikiran seseorang tidak bisa kita kontrol, tetapi cara kita mengelola pikiran kita, emosi kita dan apa yang kita bicarakan ialah hal yang dapat kita kontrol.

Jadi jangan salahkan mereka kalau apa yang mereka bicarakan tidak sesuai dengan keinginanmu.

5. Kehidupan Itu Tidak Sama Seperti Media Sosial

Walaupun klise, tapi memang benar kalau kehidupan yang kita jalani di real life berbeda sekali dengan saat kita berselancar di Internet, terkhusus media sosial. Yang mana kehidupan di Media Sosial merupakan zona nyamanmu, karena di dalamnya kamu telah dilayani oleh algoritma canggih yang mengantarkanmu kepada hal-hal yang ingin kamu liat dan ingin kamu dengar.

Algoritma ini tau apa kesukaanmu, apa yang membuat kamu mau berlama-lama mengakses media sosial, dan apa yang tidak kamu sukai. Karena terlalu lamanya kita dinyamankan oleh penyesuaian kesukaan yang dilakukan algoritma, maka penulis lihat saat ini banyak orang yang sangat sensitif akan hal-hal yang tidak ia sukai di dunia nyata.

Mau bagaimana pun hal-hal yang tidak kita sukai lalu-lalang muncul di kehidupan nyata kita, tidak akan kita hanya menemui kesenangan-kesenangan dalam hidup, terkecuali jika nanti umat manusia sudah dikontrol oleh algoritma ataupun big data, yang mana selain terdengar menyeramkan, sekaligus menjadi sebuah pertanyaan kembali “apakah tingkat kebahagiaan kita nantinya dapat benar-benar meningkat dengan diatur oleh algoritma big data?”.

6. Tak Perlu Dimasukan Hati

Seperti yang kita tau, basa-basi ialah kalimat-kalimat spontan dari mulut yang tak jarang tidak dapat kita bendung. Pastinya kamu juga beberapa kali menyesali kalimat yang sempat terlontarkan ketika kamu basa-basi dengan temanmu bukan?

Nah kemungkinan orang lain pun merasakan hal seperti itu, jadi jika ada kalimat yang tidak mengenakkan keluar dari lawan bicaramu, cukup abaikan dan lewatkan saja.

7. Pahami Kondisi Lawan Bicaramu

Nah kamu juga perlu memahami lawan bicaramu nih, apakah lawan bicaramu melakukan obrolan tanpa tendensi atau dengan ada tendensi (misalnya bullying). Apabila kamu sedang berada di kondisi yang tidak mengenakkan seperti gagal dalam karir, mereka yang bertanya kepadamu sesungguhnya bisa saja benar-benar tidak mengetahui kondisimu.

Kamu pantas marah jika seseorang yang memang sudah mengetahui hal itu menanyakan hal tersebut dengan terus berulang, membandingkanmu, ataupun meledekmu.

Namun jika hal itu tidak terjadi, sadarilah bahwa mereka hanya menanyakan kabar, tidak menghakimimu.

Kamu pastinya juga enggak mau kan kalau pertemuan singkatmu hanya dihabiskan dengan tatap-tatapan aja? atau bahkan jadi jarang ketemu karena menghindari obrolan yang tidak mengenakkan?

Jadi biasa saja dengan basa-basi, karena basa-basi itu terkait relevansi~

source image: https://www.pexels.com/@ekaterina-bolovtsova

About the author

Weka Kanaka
Weka Kanaka
Kontributor Tetap at ID Student Outlook | Website

Belum pandai merangkai kalimat, sekedar ingin membagikan pandangan maupun informasi, tapi kolaborasi antara waktu ditambah usaha mungkin bisa berkata lain. Blogger part time, Learner all of time.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *