Kesepian Pada Era Modern, di Tengah Konektivitas Media Sosial

Kesepian - All My Friend are dead

Kesepian Menjadi Masalah Modern

Pada saat ini penulis sedang dihadapkan permasalahan klasik anak muda yang sedang beranjak ke usia dewasa, yaitu kesepian. Beberapa pembaca mungkin akan tertawa kecil sambil berucap, makanya berbaik-baik sama teman. Iya saya akui, mungkin memang saya kurang baik dalam menjalin hubungan pertemanan. Tetapi tulisan kali ini lebih dari itu, ada hal-hal yang perlu kita pahami lebih dalam lagi perihal kesepian, terkhusus di era modern kali ini. Karena sejatinya bukan penulis saja yang merasakan ini, mungkin anda juga pembaca yang memutuskan membaca tulisan ini juga menginginkan sebuah jawaban dari kesepiannya, atau paling tidak, apakah perasaan kalian ada yang terwakilkan di dalam tulisan ini hehe.

Selain covid-19 yang sekarang sedang mewabah namun tidak terlihat, kesepian juga sejatinya sedang mewabah dan tidak terlihat. Belum lagi rasanya tidak banyak diskursus yang membahas ini, tidak banyak penanganan yang dapat menjadi solusi pasti. Orang-orang yang kesepian cenderung memilih untuk mencari kesibukan pada kesehariannya, namun nampaknya pandemi covid-19 bisa saja memperparah masalah ini. Hal itu karena banyak masyarakat yang mengalami keterbatasan dalam berinteraksi atau bahkan diputus pekerjaannya yang menyebabkan menurunnya kesibukan dan meningkatkan kecenderungan kita untuk merasa kesepian.

Bahkan pada tahun 2017, mantan ahli bedah umum AS Vivek Murthy menyebut kesepian sebagai “epidemi kesehatan yang berkembang” yang menurut para ahli, sebagian disebabkan oleh teknologi modern dan media sosial menggantikan beberapa interaksi tatap muka. Kesendirian juga amat terkait dengan peningkatan risiko depresi, kecemasan, penyakit kardiovaskular, demensia, dan umur yang lebih pendek. Nah dengan risiko permasalahan sebanyak itu, seharusnya masalah kesepian bukan lagi bahasan yang menye-menye atau pun tidak penting.

Kesepian sejatinya merupakan perasaan psikologis, yang menganggap diri seperti terasingkan, bahkan hal tersebut dapat dialami ketika sedang berada di keramaian. Hal ini dijelaskan pula oleh David Narang dalam huffpost, penulis buku “Leaving Loneliness” ini menjelaskan; jika kita berada di ruangan yang penuh dengan keluarga dan teman-teman tetapi tidak ada yang tahu pikiran dan perasaan yang sebenarnya kita alami, kita cenderung merasa kesepian. Padahal jika bahkan satu orang mengetahui pikiran dan perasaan kita yang sebenarnya pada suatu waktu, kita mungkin akan merasa sedikit tidak kesepian.

Banyak juga yang berpendapat bahwa anak-anak usia muda yang sedang mengalami masa transisi ke umur yang lebih dewasa disebut-sebut sebagai fase di mana seseorang semakin sedikit mendapatkan teman, namun semakin berkualitas. Banyak juga yang menganggap hal ini sebagai pola sosial yang sudah ada sejak lama. Mungkin ada benarnya, karena ketika kita sudah berada di usia dewasa pastinya kita dihadapkan pada kesibukan individu, dan kita cenderung hanya punya waktu untuk berinteraksi dengan sedikit orang; teman kerja, kuliah, teman lama, teman yang satu visi, yang juga mungkin semakin menyusut jumlahnya.

Sudah Menjadi Masalah Serius di Beberapa Negara

Namun kita juga perlu menelisik hal-hal baru yang menjadi pembeda masa modern dengan masa yang lalu, yaitu peran media sosial. Apakah benar media sosial turut menambah masalah kesepian masa kini? Problem nyatanya dapat kita lihat dari keputusan Perdana Menteri Inggris Theresa May, yang menetapkan jabatan menteri baru untuk menangani warga yang merasa kesepian, ialah Tracey Crouch ditunjuk sebagai Minister for Loneliness sebagai bentuk kepedulian pemerintah Inggris atas warganya yang banyak mengalami kesepian. Berdasarkan hasil penelitian tahun 2017, sebanyak lebih dari 9 juta warga Inggris (14% dari populasi) merasa kesepian. Theresa May pun berujar bahwa; ada hal yang berubah dari masyarakat. Kurangnya interaksi, kurangnya kebersamaan dan meningkatnya aktivitas di media sosial mendukung tingginya angka mereka yang mengalami kesepian. Ia pun menambahkan “Untuk kehidupan modern, ini adalah fakta yang menyedihkan”.

Tak hanya di Inggris, tak jauh berbeda dengan Menteri urusan kesepian dan masih tersangkut paut dengan urusan perasaan. Dalam beberapa tahun terakhir, di beberapa negara seperti Uni Emirate Arab dan India, ada posisi menteri kebahagiaan.

Kesepian di Era Media Sosial

Entah, ini permasalahan antar generasi yang berulang atau pengaruh besarnya karena media sosial saat ini. Karena nampaknya kedua orang tua saya yang baru saja menggunakan medsos beberapa bulan atau tahun merasa terkoneksi kembali dengan teman-teman lamanya, dan muncul pertanyaan di benak penulis apakah kita yang sudah sedari dulu terhubung dengan teman-teman kita di media sosial namun mengalami kecanggungan ataupun keengganan dalam berinteraksi saat ini dapat memulai interaksi kembali setelah sekian lama?

Mengapa Interaksi Saat Ini Berbeda Dengan Zaman Sebelumnya?

Sebenarnya ada banyak indikator yang dapat diuraikan, hal-hal tersebut tergantung dari pengalaman dan kondisi setiap pribadi, namun penulis coba uraikan dari observasi dengan sudut pandang pribadi tentang hal-hal apa saja yang menjadi pembeda interaksi saat ini dengan zaman sebelumnya.

  • Konektivitas Membuat Lingkaran Pertemanan Meluas

Peran Media Sosial turut memperlebar relasi pertemanan, baik teman lama, teman yang sering berinteraksi dengan tatap muka, maupun teman yang terjaring lewat sosial media. Sehingga kuantitas pertemanan kita sangat banyak, serta pastinya kita kesulitan dalam waktu maupun tenaga untuk mengupayakan semua hubungan tetap hangat dan berkualitas.

  • Saat Ini Kita Bebas Memilih

Berbeda dengan zaman sebelumnya, lingkaran pertemanan yang luas membuat kita dapat memilih teman yang cocok ataupun satu visi dengan kita. Sedangkan zaman sebelum adanya medsos, kita mau tidak mau harus berinteraksi dengan orang yang bahkan sangat menyebalkan. Sehingga saat ini ada kecenderungan kita untuk berpindah-pindah atau memilih teman yang benar-benar cocok, sampai akhirnya mungkin kita sadar bahwa bukan teman kita yang tak cocok, tapi ego kita yang terlalu besar hehe.

  • Banyaknya hiburan di era saat ini

Tidak hanya perihal medsos, tapi banyaknya konten hiburan di era teknologi membuat kita mempunyai banyak hal yang bisa kita nikmati, walau tanpa interaksi sosial. Baik itu sekedar berselancar di medsos, menonton video di youtube, maupun bermain game online. Bahkan banyak orang juga yang phubbing (Tidak Lepas Dari Gadget) untuk sekedar melihat konten-konten di media sosial ketika sedang berinteraksi tatap muka dengan temannya. Ini menandakan konten hiburan di era ini sudah membuat kita kecanduan, dan tidak merasa perlu memerhatikan interaksi sosial.

  • Kita seperti berada dalam satu rumah, tapi tak saling menyapa

“Modern loneliness, we’re never alone
But always depressed, yeah
Love my friends to death
But I never call and I never text”

— Lauv, Modern Loneliness

Kalau kita mengamati interaksi kita di media sosial yang masih menjadi trend saat ini–Instagram, walaupun  kita sering menggunakannya, tapi nampaknya pada era medsos ini kita jarang sekali melakukan interaksi. Konten yang kita bagikan seringnya ialah story perihal aktivitas, informasi, maupun foto-foto terbaik. Terkhusus story, kita seakan tau segala aktivitas yang dilakukan teman-teman kita, namun kita sangat jarang sekali saling menyapa. Apabila dianalogikan seolah kita sedang berada dalam satu rumah yang semua orang bebas melakukan apapun, namun kita tidak saling berinteraksi.

Hal ini yang penulis pikir menjadi problem yang akan menumpuk, kalau masih memakai analogi barusan, perilaku ini apabila dilanggengkan akan menyebabkan berjaraknya anggota di suatu rumah tersebut. Keengganan untuk berinteraksi turut menyebabkan kecanggungan antar anggota, padahal kita melihat mereka setiap hari didepan mata kita (lewat sosial media).

  • Platform Media Sosial mempengaruhi cara kita berkomunikasi

Berbeda seperti jaman awal kita menggunakan media sosial, mungkin yang paling familiar ialah Facebook. Saat itu nampaknya menggunakan media sosial sangat mengasyikan, selain karena itu merupakan hiburan yang baru untuk kita, tapi tak ketinggalan media sosial tersebut memberi ruang-ruang untuk klasifikasi pertemanan maupun interaksi yang berbeda-beda, misalnya orang yang ingin interaksi secara terbuka bisa melalui komentar status, like, ataupun mengirim pesan di wall, sedangkan yang ingin lebih intim bisa melalui pesan chat. Sebenarnya Instagram juga mewadahi hal tersebut, kurangnya hanya di bagian wall dan update status saja. Tetapi tren saat ini aktivitas foto cenderung banyak melalui Story, yang otomatis masuk ke Direct Message, yang mungkin menjadi ranah private untuk kebanyakan orang. Maka dari itu banyak juga yang membuat story tanpa fasilitas komentar ataupun membuatnya dapat dilihat oleh hanya teman dekat saja.

Bukan mengutuk Instagram yang menjadi arus utama media sosial, tetapi perubahan paradigma dalam media sosial akhir-akhir ini perlu dicermati agar kita juga dapat menemukan rumusan ataupun solusi agar penggunaannya dapat dengan tepat. Media sosial dari yang awalnya tempat bercerita, beropini dan bergeser ke penciptaan citra yang aestetik, sebenarnya tak ada salahnya memunculkan citra, tapi yang perlu digarisbawahi adalah apabila citra yang menjadi tujuan utama banyak orang di media sosial, berarti menunjukan bahwa media sosial tak lagi menjadi wadah untuk orang saling berinteraksi.

  • Luring atau Daring?

Komunikasi terbaik memang adalah luring (Luar Jaringan), karena dengan interaksi secara konvensional ini kita dapat berkomunikasi dengan lengkap, mulai dari mimik wajah, gesture, intonasi dapat kita lihat dan tunjukan dengan komunikasi secara konvensional. Hal ini yang nantinya dapat menjelaskan percakapan secara lengkap, dan menghindarkan segala kesalahpahaman. Hal ini jelas tak dapat digantikan perannya oleh emoji yang kadang pemakaian dan interpretasinya kita suka ngawur hehe. Selain itu komunikasi secara luring lebih memiliki interaksi dengan feedback yang banyak.

Namun sepengamatan penulis, apabila seseorang cukup sering berinteraksi saat luring, namun interaksi daring kurang intensitasnya ia seakan menghilang dari pergaulan. Hal ini mungkin karena interaksi kita yang lebih mengutamakan daring(Dalam Jaringan), di mana interaksi daringsangat cepat sekali sehingga apabila orang tak mengikuti kecepatannya maka ia akan kembali terasing.

  • Komunikasi lewat medsos menjadi pilihan utama

Seharusnya yang perlu disadari adalah media sosial patutnya menjadi wahana interaksi komplementer, bukan sebagai subtitusi seperti yang lebih banyak kita pilih akhir-akhir ini. Media sosial patutnya untuk membantu kita berkomunikasi dengan orang-orang yang tak dapat kita temui. Bukan untuk mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat… yhaa klise sekali memang.

  • Sukses Meter

Yang paling membuat mental kita terganggu apabila media sosial digunakan hanya untuk “sukses meter” kalian. Nantinya kalian hanya berusaha memamerkan pencapaian, membandingkan pencapaian, alih-alih mencari kebahagian di media sosial, mungkin yang kalian dapat nantinya hanyalah gangguan mental karena berusaha paling bagus dibanding teman-teman kalian di media sosial.


Media Sosial Dewasa Ini Belum atau Tidak Berperan Mengatasi Kesepian

Dengan beberapa perbedaan Interaksi kita saat ini dengan masa yang lampau—sebelum medsos. Nampaknya permasalahan ini banyak disebabkan pula oleh perilaku dan cara interaksi kita di media sosial akhir-akhir ini. Sehingga media sosial belum menciptakan kepuasa batin, atau paling tidak menghilangkan rasa kesepian bagi penggunanya.

Namun begitu, seseorang dapat saja meninggalkan media sosialnya dan memilih cara-cara interaksi konvensional. Tetapi seperti yang telah saya uraikan, bahwa interaksi sosial saat ini berkat peran Media Sosial sudah sangat cepat, sehingga orang yang tidak aktif di media sosial akan terasa hilang, dan bukan tidak mungkin temannya juga sudah mendapat circle yang baru berkat percepatan interaksi di media sosial.

Sumber:

https://lifestyle.kompas.com/read/2018/01/23/070000520/mengapa-inggris-mengangkat-menteri-urusan-kesepian-

Editor : Dimas WP

About the author

Weka Kanaka
Weka Kanaka
Kontributor Tetap at ID Student Outlook | Website

Belum pandai merangkai kalimat, sekedar ingin membagikan pandangan maupun informasi, tapi kolaborasi antara waktu ditambah usaha mungkin bisa berkata lain. Blogger part time, Learner all of time.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *