Obituari: Larger-than-Intellectual, Down-to-Earth

buat Bu Harsi yang baik. Rest in peace. We all love you..

Mengingat Bu Harsi, paralel dengan memoar circa 2015-2018, kala aku sedang terseok-seok menyelesaikan studi sarjana di Fisip, Universitas Tidar. Alih-alih sebagai dosen senior, Bu Harsi, bagiku, justru eksentrik dan, meminjam istilah Wisnu Fahmi[1], “tidak feodal serta lebih inklusif.” Hal tersebut mungkin akan membuat lebih banyak mahasiswa menganggukan kepala tanda setuju. Eksentrik karena beliau menyenangkan, tidak hanya dalam ruang kuliah, namun juga dalam banyak ruang inklusif lainnya. Tidak feodal karena ia bergaul dan dekat dengan semua kalangan, serta berempati pada mereka yang dikategorikan sebagai “terpinggirkan” atau “tersisihkan”.

Perjumpaan bersama Bu Harsi bermula ketika aku mulai mengambil kelas pancasila. Kelas yang teramat singkat, namun esensial. Selain mengisahkan perjalanan intelektual, guyon, serta memberi nasehat (an old women’s advice) kepada para mahasiswa, Bu Harsi juga memberi pengantar kuliah pancasila dengan sangat filosofis. Kelak, hal tersebut yang mendorong aku mendalami filsafat kritis.

Sebagai alumni Filsafat UGM tahun 1981, Bu Harsi menerangkan kepada kami apa itu epistemologi, geneologi, serta ontologi dalam diskursus pancasila. Istilah yang asing dan rumit dilafalkan. Namun begitu, retorikanya yang sederhana dan renyah, paling tidak dapat membantu kami menginternalisasi pengetahuan tersebut.

Mengikuti singkatnya kelas kuliah beliau, mendapati bimbingan kebudayaan (dan akademik), serta menyaksikan dari dekat keramahannya terhadap setiap orang – membuat Bu Harsi cepat di gemari. Tidak hanya di Fisip, namun juga di fakultas lain. Bu Harsi, dalam kenangan beberapa teman, memang intelektual yang mudah akrab dan bergaul.

Perawakannya yang humoris dan egaliter, membuat aku dan banyak teman-teman bahkan kerap datang berkunjung ke kantornya. Entah sekadar konsultasi, atau yang lebih privat, untuk mencurhati sesuatu. Tentu beliau adalah pendengar yang baik, empatik, dan bijaksana. Alih-alih memberikan komentar serius, kadang kala, ia justru berkelakar. Begitulah Bu Harsi, menyenangkan dan selalu dirindukan.

Ia tak pernah merubah gaya bahasa, sikap, dan caranya memperlakukan mahasiswa: di kelas atau di luar kelas. Ia tak pula sungkan menyapa para mahasiswanya di jalanan, di antara lorong-lorong fakultas, atau tempat tanpa privilege lainnya. Menariknya, pada waktu itu, Bu Harsi kerap mencari beberapa teman ke sekretariat organisasi untuk meminta mereka kembali ke dalam ruang kelas karena terlalu lama membolos[2].

Pun, berulang-ulang mengingatkan aku untuk tidak menomersatukan aktivisme, tetapi pendidikan. Yang paling membekas, yang sampai hari ini selalu aku ingat, adalah ketika Bu Harsi sering berujar pada teman-teman, “Ncis ki nakal, neng sembodo.” Sebetulnya, aku tidak terlalu suka disebut seperti itu. Selain overglorifikatif, hal tersebut juga membuatku agak malu. Namun begitu, Bu Harsi, baik secara koersif maupun otoritatif, tidak pernah membatasi atau mengintimidasi kebebasan aku sama sekali. Oleh karenanya, secara personal, walau aku selalu menolak tradisi non-genuine Bapakisme di dalam kampus, juga dalam relasi sosial lainnya. Namun, setelah melihat Bu Harsi bertahun-tahun, Ibuisme (dan Bu Harsi) seharusnya layak dirayakan.

Memor: Sebuah Penyelamatan

Pernah suatu ketika di 2016, saat hari-hari menyulitkan dalam kehidupanku, Bu Harsi datang menguntai moral dan keyakinan. Meminta agar aku tetap kuat serta berani menghadapi konsekuensi-logis atas apa yang sudah aku mulai. Waktu itu, aku mendapatkan tekanan hebat serta dimusuhi banyak pihak di universitas. Dan menjengkelkannya, banyak di antara teman-teman ketakutan, menjadi oportunis, dan meninggalkanku sendirian. Itu sebabnya, aku tak lagi percaya gerakan mahasiswa hari ini. Gerakan mahasiswa tak lebih dari sekumpulan domba berseragam yang siap masuk ke ranjang sampah. Aku serius mengucapkan ini.

Kembali ke cerita. Hari itu sunyi dan kering, cemas dan demor. Aku kehilangan otonomi moral, dekaden, dan terasingkan. Namun, moral dan keyakinan yang Bu Harsi edarkan kepadaku setidaknya berhasil membuat aku kembali bangkit dan menantang. Dengan atau tanpa bantuan seorang pun, aku tetap mengusahakan kebenaran yang sedang aku perjuangkan. Hingga tuntas, sampai selesai. Baik. Akan aku ceritakan kepada kalian masalahnya. Sebelum itu, aku ingin mempersonifikasi bagian ini. Bagian di mana Bu Harsi berperan penting dalam permasalahan yang saat itu sedang aku hadapi.

Malam 2016 itu adalah malam perayaan ulang tahun universitas. Beberapa hari sebelum malam itu tiba, beberapa eksponen gerakan mahasiswa dan para aktivisnya berkumpul untuk membicarakan beragam isu serta permasalahan yang sedang berlangsung di internal kampus: mulai dari fasilitas belajar, bentuk-bentuk pelayanan prima, uang kuliah tunggal, hingga demokratisasi pendidikan. Kajian demi kajian dibuat, konsolidasi demi konsolidasi diorganisir, seruan demi seruan disebarkan.

Singkat cerita, mahasiswa yang terlibat dalam diskusi bersepakat mencari satu momen untuk menyampaikan aspirasi (aku lebih senang menggunakan istilah “luapan kemarahan” sebenarnya) tersebut. Akhirnya, acara ulang tahun universitas yang akan datang adalah momentum strategis yang dipilih teman-teman untuk memberlangsungkan aksi protes.

Teman-teman Fisip memulai dengan satu pertunjukan drama yang mengkritik kepincangan sistem yang terjadi di universitas. Para mahasiswa, jajaran rektorat dan dekanat, serta para tamu undangan terkesan, marah, dan dongkol dengan pertunjungan tersebut. Segera setelahnya, lebih terkesan, marah, dan dongkol lagi, ketika di ujung drama, aku meraih mic dan mulai mengorasikan tuntutan-tuntutan.

Para mahasiswa menyanyikan lagu-lagu perjuangan, mengangkat genggaman tangan ke udara, memanjat kursi dan bersorak. Para jajaran rektorat dan dekanat marah besar dan menganggap aksi tersebut memalukan dan aku disebut sebagai pengacau. Malam itu benar-benar menggemparkan dan viral serta panjang dibicarakan semua orang. Keesokan paginya, aku diminta oleh rektor untuk menemuinya dan disidang. Siang harinya, aku dipanggil oleh jajaran dekanat Fisip dan disidang. Sore harinya, ketika aku benar-benar merasa tertekan, tidak ada seorang pun yang datang menemaniku. Aku diasingkan, dibenci dan dijauhi. Hanya ada ucapan Bu Harsi serta kepeduliannya. Ya, ia hadir menyelamatkanku.

Seperti Ben Anderson dalam kenangan murid-muridnya yang, disebut oleh Julia Suryakusuma sebagai, “Larger-than-Life, Down-to-Earth,” karena memberikan banyak pertolongan kepada, tidak sekadar intelektual sosial Indonesia, tetapi juga bagi mereka yang “dikalahkan” dan “ditundukkan” oleh rezim otoritarian. Bu Harsi agaknya sama, Larger-than-Intellectual, Down-to-Earth. Ia lebih menyerupai seorang Ibu yang memberi first aid dan rasa keadilan bagi anak-anaknya. Tidak hanya kepada anak-anak yang manis dan disiplin, namun juga kepada anaknya yang “pemberani” dan “nakal”. Setidaknya, begitu yang ia lakukan kepadaku.

Penutup

Aku bertemu Bu Harsi untuk yang terakhir kalinya di Fisip, akhir tahun 2018, beberapa hari menjelang wisuda. Banyak hal yang aku dan Bu Harsi bicarakan waktu itu. Ia masih tampak sehat dan sumringah. Masih guyon dan tetap membaca koran. Masih rajin berjalan kaki dari Tuguran ke Menowo, dan membimbing banyak mahasiswa.

Pesan terakhir yang Bu Harsi sampaikan kepadaku, kala gala dinner di Hotel Atria dalam hajat acara perpisahan fakultas. Setelah mendapatkan kesempatan dan menjadi perwakilan wisudawan untuk menyampaikan pidato (dan bukan orasi) perpisahan. Bu Harsi kembali berujar: “Koe ki nakal, neng sembodo.”

Selamat jalan, Bu Harsi. Kepurnaanmu dari gelanggang intelektual (dan kampus) serta kehidupan, tak berarti purna dari memori kolektif murid-muridmu. Ilmu, kebaikan, dan kebijaksanaan yang berpuluh-puluh tahun telah kau dedikasikan dan edarkan, akan menuntunmu tiba di tempat yang indah. Ibu abadi, di hati dan pikiran kami.

Sekali lagi, Terima kasih banyak.

24 Juli 2021 // 04:34

Dalam kondisi berduka dan kehilangan


[1] Wisnu Fahmi adalah salah satu aktivis mahasiswa Untidar yang intensif berdiskusi dan konsultasi bersama Bu Harsi. Jauh sebelum kepergian Bu Harsi, Wisnu sering memposting foto beliau untuk mendeskripsikan rasa kekagumannya.

[2] Berdasarkan keterangan Ridwan Eyato, mantan Ketua BEM FISIP 2017, ia merupakan salah seorang mahasiswa yang kerap sekali mendapatkan nasehat dan dorongan motivasi dari Bu Harsi. Tidak hanya untuk berkuliah, namun juga menyelesaikan skripsi.

About the author

Krisnaldo Triguswinri
Krisnaldo Triguswinri
Mahasiswa Pascasarjana

Lahir di Jambi, Sumatra, pada 24 Oktober 1996. Menempuh pendidikan pascasarjana di Daparteman Administrasi Publik, Universitas Diponegoro, Semarang. Memiliki ketertarikan pada bidang kajian filsafat politik, kebijakan publik, ekonomi-politik, feminisme, dan gerakan sosial. Mengagumi para pemikir the new left: dari Alain Badiou, Michel Foucault hingga Slavoj Zizek. Mencintai intelektual critical discourse dari Frankfurt School hingga Mazhab Cambridge.

3 tanggapan pada “Obituari: Larger-than-Intellectual, Down-to-Earth”

  1. Alkhamdulillah…
    Atas ketetapan-Mu Engkau karuniakan diri ini ketuntasan dalam belajar mata kuliah Pancasila di awal semester jenjang program studi S1 Teknik Elektro, Universitas Tidar.
    Pancasila ialah nilai-nilai ketuhanan modern, berisi penghormatan terhadap kemanusiaan, kebangsaan, demokrasi, dan keadilan sosial.
    Terima kasih banyak kepada Bu Harsi yang telah men-support baik secara langsung maupun tidak langsung. Semoga semuanya bisa saling memberi kebermanfaatan dan kemaslahatan dalam kehidupan.Aamiin, ku katakan sekali lagi “semua ini tentang Qodar dan Taqdir” dua hal yg saling berkaitan dan melekat pada kehidupan setiap makhluk…Allahu ‘alaam…

  2. Trimakasih yang sebesar2nya kepada penulis, rangkaian aksara yang begitu dalam, membawa kami pada kenangan2 serta mengingatkan lagi tentang keteladanan yang ibu Rahimahallah ajarkan, sekali lagi Trimakasih penulis, sukses selalu di segala medan juang kehidupan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *