Mengapa Ada Masyarakat Berupaya Menolak Berita Covid-19? Ahli Ternyata Punya Jawaban Menarik Terkait Ini

Menolak Berita Covid

Masyarakat yang terbiasa diberi stabilitas dan rasa aman palsu, kini kambuh dan sialnya kambuh ketika situasi benar-benar genting. Ajakan untuk tidak membaca, mengunggah dan membagikan berita Covid-19 beredar di beberapa media sosial selama dua pekan terakhir.  Saat penularan sudah tidak terkendali, masih wajarkah menyuarakan penghentian pemberitaan dengan alasan menghindari kepanikan? Rasa-rasanya menukar-tambah kegentingan dengan rasa aman palsu sudah menjadi budaya kita. Menguak Fenomena ini, Sigmund Freud punya jawaban teoritisnya.

Hallo Folks!

Hiruk-pikuk masyarakat Indonesia menghadapi pandemi covid-19 tak henti-hentinya menuai kontroversi. Bahkan ketika angka pertambahan kasus harian sempat menjadi yang tertinggi di dunia sekalipun, tetap banyak suara-suara nyaring yang malah memilih mengkambing-hitamkan media pemberitaan.

Sebagai penyintas media sosial, pembaca tentu tidak asing lagi dengan pintasan-pintasan seperti dibawah ini;

“Hentikan berita covid, insyaallah Indonesia aman, tentram dan sejahtera”,

“Hentikan berita kasus harian covid, ganti berita tingkat kesembuhan aja”,

“Corona sebetulnya cuman demam biasa kok, media aja yang suka ngebesar-besarin”.

Tak berhenti di situ, di beberapa tempat, banyak warganet kedapatan menemui poster-poster persuasif yang isinya menolak serta meminta pemberitaan covid-19 segera ditarik karena dianggap sebagai sumber keresahan masyarakat.

Bila dicerna dari sudut pandang psikologis, ujaran diatas sebenarnya tergolong wajar dan normal sebagai wujud mempertahankan kesehatan mental dari ancaman kecemasan berlebih. Hanya saja, upaya tersebut termasuk dalam cara pengendalian diri yang negatif. Sebagaimana dipaparkan Sigmund Freud. Freud sendiri dikenal sebagai bapak Psikologi dunia yang begitu dikenal dari teori-teori nya yang eksentrik.

Tinjauan Teori Struktur Kepribadian (Psikoanalisa) Sigmund Freud

Untuk menjelaskan fenomena di atas, penulis akan meminjam teori struktur kepribadian atau Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Freud menyatakan bahwa ada tiga unsur saling berkait dari teori kepribadian yang dirumuskanya, yaitu Id, Ego dan Super-Ego. Secara sederhana, Id (Das Es) adalah insting dan dorongan bawah sadar manusia yang bekerja berdasarkan prinsip kepuasan (Pleasure Principle), contohnya rasa lapar, hasrat seksual dsb. Ego (Das Ich) adalah pengambil keputusan sekaligus menangani realita, dan bekerja berdasarkan prinsip realitas (Reality Principle). Sementara Super-Ego (Das Ueber Ich) adalah pertimbangan moral yang diinternalisasi dari keadaan norma disekitar, bekerja atas dasar idealitas (Idealistic Principle), contohnya seperti kecenderungan mempertimbangkan norma, etika, adab, aturan dan kebiasaan baik.

Contohnya

Misalkan Penulis belum makan dan perut terasa begitu lapar, akan tetapi penulis tidak memiliki uang untuk membeli makanan segera, oleh sebab itu penulis memutuskan pulang ke rumah untuk makan di rumah saja. Bila premis tersebut dianatomi dengan teori kepribadian Freud, maka saat penulis lapar dan muncul hasrat untuk mencari makan, itu dinamakan Id. Ketika penulis sadar tidak punya uang dan berfikir bahwa tidak elok untuk berhutang apalagi mencuri, maka itu disebut Super-Ego. Sehingga, keputusan penulis untuk memilih pulang dan makan di rumah adalah fungsi Ego.

Sampai di sini pembaca sudah paham bukan?

Nah setelah itu mulai timbul masalah, yaitu ketika Ego tidak mampu mengendalikan Id, dikarenakan Super-Ego yang mempertimbangkan nilai-nilai eksternal ini tak kuasa meredakan kecemasan, maka jiwa akan mencari semacam bentuk ataupun mekanisme pertahanan diri dari kejatuhan mental. Sebagaimana bila masyarakat dengan hasrat ingin hidup normal dalam ketentraman, kemudian dihadapkan dengan kondisi pandemi dengan segudang aturan yang bikin panik dan susah, maka sebagian mereka yang ingin menjaga kondisi mental agar tetap tenang, berupaya melakukan apa yang Freud sebut sebagai Ego-Defense Mechanism.

Apa itu Ego-Defense Mechanism?

Secara sederhana, Ego-Defense Mechanism adalah upaya-upaya dari Ego sebagai pengambil keputusan untuk mengebiri dan menormalisasi gejolak hasrat (Id) yang tidak mampu mentoleransi pertimbangan moral (Super Ego). Strategi ini dilakukan agar kecemasan bisa dikurangi atau diredakan.

Sigmund Freud sendiri menjelaskan bahwa ada begitu banyak jenis Ego-Defense Mechanism. Beberapa darinya mampu menjabarkan secara teoritis mengapa banyak masyarakat memilih untuk menyuarakan penghentian pemberitaan covid-19 dan menyalahkan media yang bagi mereka dirasa terlalu membesar-besarkan, padahal kondisi yang ada memang sudah sedemikian mengkhawatirkan.

Masyarakat yang demikian sebenarnya sedang berupaya mempertahankan kesehatan mental ataupun situasi tak nyaman melalui mekanisme pertahanan diri seperti diantaranya:

1. Penyangkalan (Denial)

Merupakan bentuk Ego-Defense Mechanism yang paling umum dilakukan seseorang, yaitu dengan menyangkal fakta dan realita yang ada. Dengan cara ini seseorang menutup akses terhadap situasi tertentu sehingga tak akan ada dampak secara emosional. Sederhananya, seseorang memilih untuk menafikan situasi yang kurang menguntungkanya. Demikian pula ketika masyarakat menerka bila kebijakan Lockdown, PPKM dan semacamnya akan merugikan aktivitas keseharian mereka dan mempengaruhi hasil bekerja, maka mereka akan memilih mempercayai bahwa Covid-19 hanya akal-akalan pemberitaan media saja.  Lebih ekstrim lagi jika turut meyakini wabah ini hanya bisnis dan akal-akalan rumah sakit yang ingin mencari untung. Dari penyangkalan ini, masyarakat merasa lebih tenang dengan delusi dari prasangka mereka sendiri.

2. Pemindahan (Displacement)

Sesuai namanya, Displacement yang berarti memindahkan, pada kondisi ini seseorang melampiaskan keresahan mentalnya kepada objek atau orang lain. Demikian halnya, ketika seseorang tak kuasa meredam kecemasan akibat pembatasan sosial dan pemberlakuan protokol kesehatan, ia akhirnya meluapkan kekesalanya kepada media-media pemberitaan. Hal ini menjawab fenomena banyaknya warga yang menolak berita covid-19 tak lain karena upaya mereka untuk meredam kecemasan.

3. Represi

Merupakan tindakan memilih menghindari perasaan, kenangan atau prinsip yang tidak mengenakan. Harapanya suatu saat nanti semua hal yang kurang menyenangkan itu bisa terlupakan sepenuhnya. Sebagaimana ketika orang-orang berusaha meyakinkan diri bahwa Covid-19 ini hanya sebuah ujian singkat, pasti akan segera berakhir dan kehidupan akan baik-baik saja bila semua tetap tenang. Meski fakta dilapangan menunjukan peningkatan angka kasus aktif, tingginya kematian dan kondisi infrastruktur kesehatan yang sudah kolaps. Orang yang melakukan defense mechanism ini akan berusaha menafikanya dengan membayangkan optimisme bahwa situasi sedang baik-baik saja. Maka jangan heran apabila banyak oknum di tengah masyarakat yang jor-joran mematuhi protokol kesehatan dan beraktivitas seperti biasa, karena mereka telah merepresi gejolak mental dirinya.

4. Proyeksi

Terkadang ketika kita membenci seseorang, kita akan memunculkan proyeksi bahwa orang tersebut juga membenci kita. Pada Ego-Defense Mechanism Proyeksi, preferensi kita akan persona seseorang kemudian dijadikan ukuran pembenaran atas asumsi liar yang ada. Sebagai contoh, ketika sedari awal kita merasa kurang cocok dengan seorang pemimpin, maka kita akan meyakinkan diri sendiri bahwa pemimpin itu pasti melakukan kepemimpinan yang akan merugikan kita. Hari-hari ini pun demikian, banyak dari masyarakat yang secara pilihan politik berseberangan dengan pemerintah dan melihat kebijakan sedemikian simpang siur dan meragukan, hingga banyak dari mereka menolak kebijakan vaksinasi. Bahkan beberapa kemudian menjadikan Proyeksi ini sebagai pembenaran untuk menolak protokol kesehatan, terlebih ketika presiden Jokowi menghadiri pernikahan seorang influencer dan pernyataan nyleneh para pejabat yang terkesan meremehkan covid-19 diawal-awal penularan. Masyarakat harus mampu membedakan mana preferensi politik dan kegentingan yang mengancam keslamatan diri. Kecerobohan pejabat publik tetap harus dikritik, tetapi tidak kemudian menjadi pembenaran bagi kita untuk melonggarkan protokol kesehatan.

5. Identifikasi

Merupakan cara mengebiri kecemasan dengan meniru (mengimitasi) dan mengidentifikasikan diri dengan orang yang dianggap berhasil memuaskan hasrat karena memiliki preferensi yang sama. Proses ini dapat menjelaskan mengapa banyak dari kita masih mempercayai teori konspirasi dan temuan-temuan liar mengenai covid-19, jawabanya sederhana, yaitu karena masih banyak tokoh yang menyuarakanya. Terlebih bila ia punya daya influencial yang besar di masyarakat. Bahkan suara para ahli dan dokter pun dikesampingkan karena keterangan yang mereka keluarkan tidak mampu memuaskan dahaga imajinasi liar kita, lantas larilah kita pada infuencer yang menawarkan informasi alternatif. Dalam dunia politik, proses identifikasi ini juga dikenal sebagai post-truth.

6. Regresi

Merupakan tindakan seseorang yang berusaha ingin kembali pada kondisi awal mereka karena tidak mampu beradaptasi pada kondisi yang terjadi saat ini. Bila penulis kaitkan dengan covid-19, Regresi ini dapat menjelaskan fenomena kejenuhan masyarakat menggunakan masker dan memilih enggan memakainya lagi. Masyarakat gagal untuk beradaptasi dan akhirnya memilih kembali pada rutinitas awal sebelum pandemi. Bahkan pemberitaan tentang covid-19 pun berusaha mereka redam dan ingin agar resonansi pemberitaan kembali ke normal seperti sedia kala.

Simpulan

Nah, demikianlah 6 macam Ego-Defense Mechanism yang digali dari teori Psiokoanalis Sigmund Freud—yang juga dapat  mendeskripsikan dan menguak psikologi orang yang ingin hidup tenang dengan menolak pemberitaan covid-19. Meskipun normal dari sudut pandang psikologi, namun perilaku oknum masyarakat tersebut sangatlah berbahaya bila kita kaitkan dengan kegentingan penanganan pandemi. Kita tidak mungkin bisa bersatu padu menghadapi wabah covid-19 dalam kondisi masyarakat yang terbelah.

Bukankah akan sangat konyol bila kemudian ada sebagian masyarakat yang sedemikian kelabakan menangani penularan dan kasus kematian yang tinggi, sementara dibelahan lain ada orang-orang pandir yang secara egois berusaha menormalisasi keadaan dengan menolak pemberitaan covid. Sebagaimana dilansir National Geographic, bahwa menolak berita covid-19 sangatlah berbahaya bagi masyarakat. Begitupun dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang turut menyayangkan kondisi ini. Rasa-rasanya begitu tidak masuk akal bila menukar nyawa yang terancam wabah dengan delusi ketenangan batin sementara.

Kalau orang-orang berkenan panik untuk adegan sinetron, panik tidak kebagian BTS Meal, hingga panik membalas chat dari orang yang istimewa dikehidupnya, lantas kenapa harus menolak panik pada hal yang jelas-jelas mengancam nyawa?

About the author

Bisma Bayu Aji
Freelance | Website

Kontributor angin-anginan. Penulis random yang juga penggiat sastra. Kunjungi catatan pinggir saya di www.padagiliranya.wordpress.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *