Apakah Selepas Pandemi, Manusia Akan Evaluasi atau Semakin Mengekploitasi?

Source: Akil Mazumder - Pexels

Source: Akil Mazumder - Pexels

Pandemi kali ini membawa banyak sekali permasalahan dan kedongkolan bagi banyak orang. Namun, ada pula sebagian orang yang memperhatikan bahwa ada sisi-sisi lain dari pandemi ini yang bisa dianggap membawa kemaslahatan.

Kemaslahatan yang tidak lain tidak bukan ialah berkurangnya polusi di bumi. Datanya dapat kita lihat di beberapa kota maupun negara yang menerapkan PSBB Lockdown, contohnya di New York yang tingkat polusinya berkurang nyaris 50%, ataupun Tiongkok yang berkurang 25% tingkat polusinya (BBC). Angka penurunan yang signifikan ini bahkan membuat langit di kota-kota tersebut dapat terlihat sangat bagus ketika difoto walau tanpa menggunakan Vscocam.

Hal ini banyak disebabkan karena berkurangnya emisi kendaraan dari aktivitas manusia yang sering menggunakan kendaraan bermotor dalam aktivitas kesehariannya yang biasanya kendaraan bermotor ini digunakan untuk transportasi orang pergi bekerja, berangkat meeting, sampai buat konten motovlog. Kini, hal itu banyak berkurang karena manusia dipaksa untuk melakukan aktivitas hanya di dalam rumah.

Beruntung, saat ini Internet telah banyak membantu sehingga banyak pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah. Walau begitu, tidak semua pekerjaan dapat dilakukan dari rumah, sebut saja pekerjaan di sektor industri primer, baik itu memproduksi barang pakai, maupun bahan pangan. Mereka yang bergelut di industri primer tidak dapat melakukan kegiatan di rumah sehingga menyebabkan distraksi bagi pelaku industri. Mereka juga tidak dapat mempekerjakan karyawan di pabrik tapi mereka juga tidak dapat menghasilkan barang kalau para pekerja mesti di rumah.

Alhasil, banyak perusahaan yang harus gulung tikar serta para pekerjanya banyak yang dipulangkan atau bahkan di-PHK. Kondisi seperti ini menyebabkan krisis ekonomi dan terjadi di pelbagai belahan dunia sehingga menyebabkan pemerintah harus turun tangan dan perlu memberikan bantuan fiskal kepada kelompok-kelompok rentan maupun yang memang sudah babak belur.

Krisis ekonomi ini terjadi karena kegiatan ekonomi tidak dapat berproduksi maksimal. Walau begitu, sebuah keharusan bagi pemerintah untuk mengucurkan dana sosial mereka, alhasil mereka terus mengeluarkan uang yang banyak, namun tak memiliki pendapatan yang maksimal. Sehingga, mereka perlu memutar otak untuk mendapatkan uang. Seperti, yang dilakukan pemerintah Indonesia, mereka mengalihkan dana yang direncanakan untuk proyek aktivitas lain, menjual obligasi, hingga yang biasa kita lakukan, ngebon alias ngutang.

New Normal atau Back to Basic?

Walau banyak pihak menyebut akan terjadi kondisi new normal, di mana manusia menemukan kondisi normal yang baru, yaitu akibat dari kebiasaan yang telah dilakukan semasa pandemi. Mungkin benar nantinya banyak perusahaan yang mengandalkan komunikasi dan kerjanya lewat daring internet, aktivitas meeting bersama klien dan rekan kerja dapat dilakukan tanpa harus melakukan perjalanan jauh yang tak jarang mengharuskan para eksekutif perusahaan untuk berpergian dengan pesawat.

Untuk sementara waktu kita dapat menghirup udara pagi yang segar sambil berjemur, tetapi pertanyaannya apakah ada yang dapat menjamin pemerintah tidak berkeinginan melakukan percepatan ekonomi untuk mengganti dana sosial semasa pandemi? baik itu untuk mengisi kas maupun mengganti utang beserta bunganya, meningkatkan perekonomian negara, maupun menguatkan mata uang selepas pandemi. Lalu, bagaimana cara pemerintah menguatkan perekonomian? Jawabannya ya dengan percepatan dan ekploitasi, seperti para masyarakat yang sudah dirundung nafsu ingin jalan-jalan, menghabiskan waktu di mall, bioskop, maupun kafe. Pemerintah juga sudah dirundung nafsu pengen dapet label sebagai pemerintahan yang sukses mengatasi Corona serta jago untuk meng-counter ekonominya. Caranya? Ya seperti biasanya, Investasi, tapi besok perlu lebih kencang lagi alirannya dan pokoknya enggak boleh ada yang ganggu baik administrasi maupun amdalnya.

Selain itu, apa ada yang dapat menjamin orang-orang yang sombong saat pandemi bakal evaluasi diri? yang dengan arrogannya dia keluyuran tanpa masker, berkerumun dengan orang-orang lain, dan menganggap dirinya kebal Corona. Apa orang seperti itu gak ngeselin kalau masih sehat wal afiat selepas Corona? Ya kita sih pengennya mereka juga ikutan selamat, tetapi apa enggak nanti selepas pandemi selesai dan kalian akhirnya keluar rumah cuman buat dicengin sama tuh orang-orang sakti. Beruntung kalian, kalau orang yang kayak begitu hanya sedikit di gang rumah kalian, paling mentok selepas Corona mereka cuman dianggap orang kebal, nah kalau se-gang-an isinya orang kayak begituan semua, siap-siap deh kamu nanti dianggep takhayul karena percaya sama virus yang bahkan gak keliatan.

Begitu pula adanya bapak-ibuk sakti yang masih sangat kuat sekali melakukan rapat Omnibus Law kemarin saat pandemi, kalau mereka sehat wal afiat sampai tuh RUU disahkan, apa mereka gak nganggep dirinya beneran sakti karena telah direstui oleh Yang Maha Kuasa, ketika para ustadz tidak mengadakan ceramah bertatap muka secara langsung, masyarakat tidak dianjurkan beribadah di rumah ibadah, namun mereka! Dengan gagah perkasa rapat paripurna, dan sehat wal afiat, sungguh memang mereka adalah orang-orang sakti yang berjalan di jalan yang benar. 

About the author

Weka Kanaka
Weka Kanaka
Kontributor Tetap at ID Student Outlook

Baru saja menyelesaikan Studi S1 Ekonomi Pembangunan di tahun 2020, dan sedang bersemangat-semangatnya untuk mencari pekerjaan, namun naas corona sedikit mengubur hasratnya. Akhirnya memutuskan mengisi waktunya berproduktif sembari belajar dengan cara mengelola platform ID Student Outlook.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *