New Normal Sebagai Istilah Populer dan Kontradiksinya dengan Kondisi Dilapangan

New Normal

Source: Pexels.com/Anna-Shvetz

Membayangkan babak akhir dari Covid-19 bisa jadi perbincangan menarik sekali pun prediksi akhir wabah ini faktanya masih bias. Apa kah tidak terlalu tabu membicarakan apa yang akan terjadi setelah pandemi ini padahal potret simpang siur realisasi bantuan sosial dan PSBB yang “terkesan sia-sia” masih jadi pemandangan mengerutkan dahi. Berdasarkan data gugus tugas covid-19 hingga mendekati hari raya Idul Fitri, jumlah kasus aktif covid-19 di Indonesia mencapai 18 ribu kasus dengan past rate/tingkat kematian di angka 6,5%. Persentase pasien sembuh meningkat secara meyakinkan meskipun angka pertambahan kasus (Positive Rate) masih tergolong tinggi, apalagi jumlah tes harian ditengarai sangat inkonsisten secara kuantitas. Presiden yang menginstruksikan untuk melakukan 10.000 tes/hari nampaknya tidak dibarengi dengan kapasitas laboratorium dan dukungan jumlah tenaga medis yang tersedia.

Belum adanya vaksin yang signifikan hingga detik ini adalah alasan logis bagi banyak orang kemudian memunculkan istilah “New Normal”. Apa itu New Normal? Secara harfiah istilah ini dapat diartikan sebagai situasi tatanan normal kehidupan yang baru di mana merujuk pada suatu respon kondisional atas perubahan perilaku sosial ekonomi dan budaya masyarakat yang drastis. Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita, New Normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah penerapan protokol kesehatan guna mencegah penularan virus (Dilansir Kompas.com).

Dapat dicermati bila New Normal memiliki dua jenis aspek waktu yang masing-masing ada definisinya sendiri. Aspek waktu tersebut adalah konsep New Normal pasca pandemi dan pra pandemi. Pasca pandemi menerangkan kiat masyarakat untuk menyesuaikan hidup dengan protokol kesehatan hingga vaksin ditemukan, sementara pra pandemi menjabarkan terbentuknya kondisi tatanan sosial ekonomi baru setelah wabah Covid-19 berakhir, bahkan sampai pada prediksi perubahan angin politik global.

Belum lama ini Presiden Joko Widodo melalui akun Twitternya, @jokowi ,mengutarakan dan meminta agar masyarakat mulai hidup berdamai dengan covid-19, sebab WHO menyatakan virus ini berpotensi tidak akan segera hilang dan tetap ada di tengah masyarakat. Presiden ingin agar masyarakat kembali produktif tapi tetap mematuhi protokol kesehatan. Pernyataan tersebut menandakan bila pemerintah sudah mulai mengkampanyekan New Normal meski sampai saat ini masih sebatas narasi yang dipertanyakan dasarnya.

Wacana New Normal bisa saja jadi istilah pembenaran bagi pemerintah untuk melonggaran PSBB dan arus transportasi, padahal ahli Epidemiologi UI, Pandu Riono menyatakan keraguan atas klaim pemerintah yang menyebut adanya penurunan kasus Covid-19. Relaksasi PSBB justru dikhawatirkan dapat memicu gelombang kedua covid-19 dengan jumlah kasus yang lebih besar. Lantas, sejauh mana wacana mengenai gaya hidup normal baru dapat dipertanggungjawabkan dasar-dasarnya bila kondisi dan fakta di lapangan masih mengundang tanda tanya. Terlepas dari intensitas pembahasanya, apa kah wacana menyongsong New Normal ini telah memiliki gambaran jelas dan disertai sokongan program pendukung, atau justru masih sebatas permbicaraan hangat biasa di jagat media sosial?

Belum Menjadi Etos

Selagi sebuah istilah penggambaran akan suatu fenomena baru belum beranjak menjadi sebuah etos, maka yang ada hanya lah pembicaraan utopis tanpa landasan yang jelas. Etos sendiri adalah pandangan hidup yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak, karakter serta keyakinan atas sesuatu atau dalam pengertian lain dapat diartikan sebagai kehendak atau kemauan yang disertai semangat yang tinggi. Sebuah istilah dapat beranjak menjadi etos ketika wacana tindakan di dalamnya telah diberikan life line atau jalan penerapan. Kita mengambil contoh Social Distancing misalnya, istilah ini bisa menjadi etos masyarakat karena memiliki standar penerapan. Begitupun dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dapat menjadi etos karena selain diberikan standar penerapan, istilah ini juga memiliki konsekuensi hukum. Apalagi kedua istilah ini telah dikemas menjadi program startegis yang kompatibel dengan social safety net area yang jelas.

Akhirnya akan timbul pertanyaan, apakah wacana tindakan dalam konsep New Normal telah menjadi etos? Tentu Jawabanya adalah belum. Statusnya hingga kini masih sekedar “istilah penggambaran”, yang ada hanya narasi berupa prediksi-prediksi baik subjektif maupun teoritis yang di”pro-kontra” kan.

Masih Sebatas Pembicaraan di Lingkungan Kaum Intelektual

Kalangan intelektual masih mendominasi intensitas permbicaraan berkaitan dengan fase kehidupan normal baru atau New Normal. Wajar karena memang masyarakat umum tidak terbiasa menghadirkan istilah-istilah baru untuk menggambarkan fase perubahan tertentu dalam aktivitas keseharianya, semua dibiarkan mengalir saja tanpa perlu riweuh mempersoalkan istilah. Ada semacam ketimpangan keresahan di dalam narasi New Normal ini, boleh jadi golongan masyarakat yang selama ini memiliki Privilege untuk tetap beraktivitas di rumah adalah yang paling memiliki antusiasme pada konsep kebiasaan normal yang baru. Sementara masyarakat yang tergolong pekerja sektor informal dan pekerja logistik akan merespon biasa saja karena memang bayangan mengenai aktivitas kenormalan baru dalam bekerja telah mereka jalani bahkan sebelum wacana bekerja dengan standar protokol kesehatan muncul. Sebelum ini pun para pedagang, retailer, supir angkot dan pegawai pabrik sudah sedari awal kasus Covid-19 muncul telah menjalani pekerjaan dengan menempatkan protokol pencegahan virus sebagaimana dianjurkan. Mereka tetap bekerja menggunakan masker, menghindari kontak langsung dan menjaga jarak.

Secara alamiah, semua orang dapat secara logis berfikir untuk menjalankan aktivitas dengan treatment dan langkah berbeda karena tuntutan kondisi tanpa perlu dipancing dulu dengan istilah-istilah. Masyarakat hanya menerima dampak dan mengharap pemulihan dengan segera,bukan malah dipertontonkan dengan pembicaraan istilah-istilah.

Mengaburkan Persoalan Yang Lebih Dilematis

Bagaimana kemudian masyarakat umum memulai start pola hidup normal baru ketika tak semua kalangan memiliki opportunity cost (biaya peluang) yang sama untuk recovery. Lingkup jenis profesi pekerjaan prestisius mungkin menjadi yang paling awal menapaki pola ideal New Normal, tapi tidak dengan golongan yang kehilangan pekerjaan dan harus mulai mencari pekerjaan baru sembari menunggu geliat ekonomi beranjak pulih. Hal ini ditambah runyam dengan ragam program safety net area yang terus memunculkan pro dan kontra dalam penerapanya, apalagi kartu Pra Kerja yang sementara mandek sampai di gelombang ketiga dengan meninggalkan setumpuk kontroversi.

Agaknya publik saat ini lebih perlu menyoroti persoalan-persoalan lain yang justru lebih strategis untuk diperbincangkan, seperti kontroversi dugaan penerapan diam-diam Herd Immunity misalnya, atau ancaman gelombang ke dua Covid-19 dan potensi kriminalitas akibat pertambahan jumlah pengangguran. Di beberapa daerah terus bermunculan persoalan di tengah masyarakat perihal kisruh Bantuan Sosial Tunai (BST) dan simpang siur dana Kelompok Penerima Manfaat (KPM). Deretan persoalan tersebut lah yang seharusnya lebih menyerap atensi publik untuk dibahas dan dicarikan langkah strategis penyelesaian.

Kritik Untuk Pemerintah

Ekonom nasional Chatib Basri sebagaimana dilansir dari wawancara virtual Katadata, memberikan pandanganya terhadap wacana menyongsong gaya hidup normal baru atau New Normal di Indonesia. Ia memprediksi bahwa akan terjadi kenaikan potensi pasar untuk jenis transaksi virtual yang dinaungi ekosistem daring, sektor bisnis yang mengandalkan aktivitas fisik dan industri pariwisata akan jadi yang paling terdampak selama New Normal. Namun dari semua keteranganya, Chatib Basri justru mengutarakan rasa pesimistisnya pada perubahan pola interaksi ekonomi setelah pandemi berakhir. Berkaca pada pengalaman respon masyarakat di seluruh belahan dunia  setelah pandemi Spanish flu 1920. Menurutnya dalam ihwal New Normal, pilihan cara beraktivitas mungkin semakin beragam tapi tidak sampai merubah kebiasaan lama sebab perilaku dari economic agent selalu bersifat short term (Jangka pendek).      

Alih-alih terlalu jauh berbicara kemungkinan-kemungkinan menyongsong fase New Normal, Chatib justru mewani-wanti pemerintah Indonesia agar manaruh fokus pada persoalan yang lebih strategis dan menekankan pemerintah untuk terus konsisten memberikan social protection dan terus memberikan life line untuk bisnis supaya tetap jalan, sebab menurutnya hal itu sudah ideal dan sama seperti protokol di semua negara. Di akhir argumennya, Chatib juga mengkritisi dan mempertanyakan kegunaan dan penerapan Natural Disaster Fund yang sering diagendakan dalam beberapa forum pertemuan antar negara.

Kesimpulan

Kini diskursus perihal New Normal menemui kontradiksi dengan vaktisitas kesiapan di lapangan, seperti analogi mengkampanyekan kebijakan untuk membiasakan menanam padi pada lahan kering yang sebetulnya rawan sekali kegagalan panen. Karenanya perbincangan ini bisa dibilang masih sebatas sajian penghangat untuk masyarakat yang sebenarnya sudah mulai membiasakan pola hidup baru secara alamiah bahkan sebelum istilah ini muncul di permukaan.

Sebelum lebih jauh tenggelam dalam bermacam diskusi mengenai pola penerapan New Normal alangkah baiknya kita berhenti sejenak menengok persoalan-persoalan yang lebih bersifat genting. Jangan sampai masyarakat diarahkan menuju pola baru yang sebetulnya di balik itu justru memumgkinkan potensi bahaya yang lebih besar. Penganjuran akan sesuatu yang tidak didasarkan pada data dan validitas yang jelas barangtentu memang harus dikritisi secara proaktif, jangan kemudian larut dan terlena dengan istilah. Ada potensi bahaya besar yang perlu dimengerti oleh masyarakat kita selain dari kehebohan memperbincangkan apalagi menerka-nerka gaya hidup normal baru “New Normal” ini.

Jadi, apakah kita sedang bersiap menyongsong pola hidup normal baru atau justru sedang dinanti oleh pola hidup berbahaya baru? Pikir lagi.

Penulis: Bisma Bayu Aji (Kontributor Lepas)

Sumber :

Dr.Abdul Aziz. Al Khayyath, 1994. Hal.13 (Diakses melalui kutipan Wikipedia)

www.kompas.com (diakses pada 16 Mei 2020)

www.katadata.co (diakses pada 17 Mei 2020)

www.instagram.com/kumparan (diakses pada 18 Mei 2020)

About the author

Bisma Bayu Aji
Freelance

Penggiat kajian Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik, memperoleh gelar Sarjana di bidang Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan dari Univesitas Tidar tahun 2019, menaruh minat pada Sastra dan dunia kepenulisan.

2 thoughts on “New Normal Sebagai Istilah Populer dan Kontradiksinya dengan Kondisi Dilapangan

  1. Misal nanti keadaan udah balik seperti sebelum wabah ini menyerang, apakah sebutan yg tepat untuk pola hidup kita? Back to old normal atau newest normal atau mau disebut upnormal aja?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *