Penyakit Nyinyir Terhadap Budaya Mainstream

Trend Bersepedah

Pexels.com/CristianRaluca

Budaya terbaru kita adalah tak melulu budaya mainstream, tetapi budaya nyinyirin budaya mainstream, loh kok bisa?

Arus Mainstream ataupun popular selalu ada di segala sendi kehidupan setiap masyarakat. Mulai dari pekerjaan, gaya hidup, hobi maupun kesukaan. Tapi tak ketinggalan pula budaya sub-culture atau yang biasa kita sebut anti-mainstream, walau dalam maksudnya anti-mainstream merupakan upaya melawan arus budaya-pop, tetapi nyatanya anti-mainstream akhir ini menjadi sesuatu yang menarik dan banyak diminati.

Untuk musik misalnya, memang lagu-lagu bernuansa anti-mainstream—indie sangat unik dan fresh. Musiknya jarang anda temui di tempat-tempat pemutaran lagu mainstream baik tv, radio, maupun minimarket terdekat. Saya sendiri merupakan penikmat beberapa lagu indie sejak SMA. Saya selalu bersemangat untuk men-download ketika mendengarkan lagu indie yang menurut saya bagus. Sedangkan saya jarang sekali men-download lagu-lagu yang sedang hits, alasan saya cukup simpel, karena lagu yang sedang hits pastinya banyak di putar di mana-mana, sedangkan lagu indie tersebut tidak akan saya temukan ketika saya pergi berbelanja di Indomaret maupun Alfamaret.

Berkat kemudahan teknologi, banyak orang yang mulai memutar lagu dengan seleranya masing-masing dan dapat memecah arus mainstream industri permusikan. Sehingga menurut saya, sudah tidak ada yang benar-benar mainstream dewasa ini. Orang sudah bisa memilih apa yang akan ia nikmati, entah dengan cara tidak sengaja menyiram air keras menemukan lagu di aplikasi streaming musik, maupun dengan sengaja mencarinya dengan kata kunci “Lagu Indie” “Playlist Indie” “Indie Lokal”.

Penikmat budaya anti-mainstream tersendiri selain menjadi penikmat, tetapi juga menjadi arus massa yang lumayan militan. Mereka berusaha menyebarkan kesukaannya kepada orang lain agar dapat dinikmati bersama, tapi kadang tak ketinggalan mereka juga turut me-nyinyir budaya mainstream yang sedang terjadi (walau enggak semuanya).

Dalam banyak hal budaya anti-mainstream memang memiliki tendensi untuk menyerang arus mainstream yang terjadi, dimana apabila terdapat nilai-nilai yang salah ataupun tidak tepat di budaya masyarakat mainstream. Seperti misalnya, Gerakan golput dalam pemilu, yang di mana dapat disebut sebagai sub-culture yang berusaha menyadarkan masyarakat umum bahwa ada kesalahan terkait konsep, pelaksanaan, maupun prosedur di pemilu.

Sejatinya nilai-nilai perubahan tersebut yang harusnya selalu dibawa oleh sub-culture ataupun budaya anti-mainstream. Namun belakangan, budaya ini seperti penyakit. Orang mulai me-nyinyir banyak hal yang bahkan tidak mempunyai tendensi pembenaran dalam suatu norma atau budaya yang sedang tren.

Misalnya saja pada tren mainstream era pandemi baru-baru ini; baik itu membuat kopi dalgona, menanam, ataupun bersepeda. Tak ketinggalan, umat anti-mainstream menjadikan berbagai hal ini sebagai sasaran kritik. Bahkan kedua trend yang terakhir tersebut merupakan tren yang dicita-citakan oleh sebagian masyarakat untuk menciptakan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Organisasi berkebun di tiap-tiap kota yang biasanya beranggotakan tak lebih dari seperempat penduduk kota, bisa saja pada era menanam sebagai budaya mainstream seperti ini (walau anggotanya tidak bertambah banyak),  kemungkinan jumlah orang yang menanam dapat menyentuh persentase tersebut. Misi mereka yang biasanya untuk menghijaukan pekarangan, sarana hobi, maupun ketahanan pangan (Read: Ketahanan Sayur). Walau begitu, sebagian orang menyinyir-nya dengan berbagai macam hal, baik menyebutnya sebagai aktivitas pensiunan, pengangguran dan sebagainya.

Adapula tren anti-mainstream yang baru saja bisa dianggap naik daun dan turut menjadi tren mainstream ialah bersepeda. Banyak orang yang tiba-tiba mengikuti tren ini dan pada awalnya saya-pun kaget karena saya kira orang-orang sudah banyak yang tidak memiliki sepeda di rumahnya seperti saya. Entah sepeda itu baru dibeli akhir-akhir ini, ataupun baru dikeluarkan dari garasi saat pandemi. Entahlah, tetapi hal ini merupakan agenda yang positif, walau belakangan nyinyir-an terkait tren ini turut bersaing dengan nyinyir-an ke Kekeyi, yang berarti anda kemungkinan besar dapat menemukan nyinyiran tren sepeda di lini masa media sosial kalian.

Terkhusus tren sepeda, kemungkinan banyak yang beranggapan bahwa ini merupakan hal yang terjadi karena pandemi dan tak akan berlanjut ketika semua sudah normal. Dengan kata lain, banyak orang yang akan ikut-ikutan dan akan me-museumkan sepedanya lagi. Tetapi yang perlu disadari, ini merupakan perkembangan tren mainstream yang positif, walau di beberapa kasus ada pesepeda yang menyebalkan dan masuk ke dalam restoran dengan membawa sepedanya.  Jelas itu hanyalah outliner di mana enggak banyak terjadi hal kayak begitu.

Selebihnya, hal ini sangat positif untuk upaya kesadaran lingkungan bagi masyarakat. Di mana tren positif ini apabila menjadi mainstream, gak akan mengurangi kekerenannya sedikit pun. Komunitas Bike to Work yang selama ini  termajinalkan pastinya mereka gak berusaha pengen jadi keren sendiri, dan pastinya mereka akan sangat senang dengan pertumbuhan tren ini. Terciptanya arus mainstream ini juga membawa harapan kepada penciptaan fasilitas sepedah yang layak, baik itu parkir maupun jalan khusus pesepeda yang sebelumnya merupakan alasan paling utama orang-orang malas bersepeda. Contohnya saja di Jakarta, di mana walau menjadi Ibu Kota Negara, tetapi Jakarta hanya mempunyai 63km ruas jalan untuk sepeda, dibanding 7.000km ruas jalan umum.

Tidak berusaha mengikuti sekelebat tren mainstream memang enggak salah, mengkritik trend tersebut juga enggak salah selagi anda punya argumen yang tepat dan ikut dibawakan di tiap kritik kalian. Tapi selagi kalian enggak punya argument apa-apa yang bisa dibawakan, selain yang bisa kalian bawa hanya mainstream itu rame dan enggak keren kalau kalian menjadi ordinary people, yaudah simpen aja, enggak ada yang maksa kalian buat ikutan kok.

Selain itu, walau kalian tetap merasa diri kalian paling keren karena enggak ikutan tren tersebut ataupun memiliki hobi yang berbeda dibanding masyarakat jelata. Yaudah simpen aja dipikiran kalau kalian itu keren, jangan sampe nyakitin orang karena kesukaan atau hobi-nya (Selagi dia gak salah).

Walau sepele, tetapi budaya nyinyir di masyarakat memberi dampak yang tak sepele, salah satunya mungkin dalam upaya tren sepeda yang dianggap tidak lebih prestis dibanding kendaraan-kendaraan mahal.

Lagipula kita juga pastinya punya kesukaan masing-masing, yang enggak ada derajat elu menjadi lebih keren dan elu enggak keren. Kita kan sama-sama penikmat apa yang kita saling suka, enggak perlu kita harus jadi pembenci apa yang enggak kita suka. Udah diem, kayak gak bisa ngeliat orang seneng dikit anda muehehe…

Dan nampaknya kita harus udahan untuk nyinyir terhadap kesukaan orang, sebelum budaya nyinyir menjadi kebiasaan yang mainstream.

Editor : Dimas Wahyu Pratama

https://www.youtube.com/watch?v=DBf9EePglbw

About the author

Weka Kanaka
Weka Kanaka
Kontributor Tetap at ID Student Outlook

Baru saja menyelesaikan Studi S1 Ekonomi Pembangunan di tahun 2020, dan sedang bersemangat-semangatnya untuk mencari pekerjaan, namun naas corona sedikit mengubur hasratnya. Akhirnya memutuskan mengisi waktunya berproduktif sembari belajar dengan cara mengelola platform ID Student Outlook.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *