Mengulas Paparan Budaya Sinisme dan Kontentifikasi Akut pada Penyajian Tulisan

Menulis

Source: Pexels.com/Todoran Bogdan

Bagi kita yang kerap berselancar di portal berita, barang tentu terbiasa menjumpai sajian informasi yang dikemas dengan “click bait” atau judul yang kelewat hiperbola. Amat mudah bagi pembaca untuk menaruh skeptis pada isi berita, akan tetapi belakangan banyak juga portal berita dengan reputasi bagus terlihat turut serta merubah penyajiannya jadi lebih bernuansa sinis. Kini bukan saja keyword/judul, isi tulisan pun berangsur-angsur kelewat nyeleneh meski dibungkus dengan dalih tulisan ringan. Click bait sendiri sebetulnya hanya satu dari sekian banyak jenis kontentifikasi sajian tulisan yang secara prinsip didasari oleh merebaknya budaya sinisme.

Secara filosofis, Sinisisme atau sinisme adalah cabang ilmu filsafat yang pertama kali dikemukakan oleh Antisthenes dari Yunani dan dipopulerkan oleh Diogenes dari Sinope sebagai bentuk pengacuhan pada unsur keduniawian. Penganut paham ini akan mengabaikan dan memandang skeptis akut unsur-unsur kehidupan sosial seperti pemerintahan, aturan, budaya, tradisi dan ragam fenomena sosial. Seiring waktu, paham ini bertransformasi menjadi politis dan melegalkan kritik secara seporadis pada pemerintahan yang secara sepihak dituding otoriter dan tirani oleh mereka. Pengaplikasian paham sinisme mungkin bagus untuk beberapa alasan psikologis, namun agak meresahkan ketika sifat semacam ini mendasari pola pikir pada penyajian tulisan.

Paham sinisme yang berkolaborasi akrab dengan keterbukaan informasi telah membidani lahirnya penyajian tulisan bergaya ringan tak bertanggungjawab. Beberapa mengisyaratkan seolah kalau tidak nyeleneh tidak akan laku dibaca. Akan sangat baik jika tulisan wajib penuh sarkas dan satir menusuk agar banyak peminat. Apalagi di beberapa kasus, pemilik portal-portal tulisan ini membentuk anggapan persuasif bahwa siapapun bisa menulis, siapapun dapat berkontribusi menulis, dengan gaya penulisan apapun, tulis apa saja yang ada di isi kepala. Padahal, menulis yang hanya bermodalkan kritikan sinis tanpa dibarengi penguasaan literasi hanya akan melahirkan banyak persoalan dikemudian hari.

Pola Penyajian Yang Subjektif Individualitstik

Paparan konten tulisan bergaya sinisme sering dijumpai agaknya dengan narasi populer seperti lebih milenialis, tidak kaku, ramping dan enak dibaca. Budaya sinisme telah menimbulkan peningkatan pada sisi subjektivitas isi tulisan, bahkan terkesan kelewat individualistik. Rekaan yang digunakan penulis sebatas bermuara pada tujuan mengeksploitasi kesenjangan keingintahuan (Curiosity gap) berupa informasi yang sebatas merangsang pola pikir skeptis pada sesuatu, tanpa diselipi alur penalaran yang komprehensif. Sebagai contoh sebuah tulisan mengulas habis mengenai blunder statemen dari seorang pejabat negara, namun kalimat deskripsi yang disajikan sama sekali tidak fokus pada bagaiman sebuah kesalahan pengucapan berimbas pada banyak hal-hal vital di masyarakat.

Termasuk tulisan saya ini juga tergolong subjektif sebab berupa esai opini, tapi paling tidak subjektivitas yang disodorkan adalah jenis subjektivitas yang bertanggung jawab dalam artian selain dapat ditelusuri secara empiris juga bisa dicerna dari sisi dimensi sosio-edukasi. Seyogyanya selain menitikberatkan pada validitas sumber informasi sebisa mungkin sebuah tulisan juga dapat diklasifikasikan melaui tinjauan dimensi pendidikan, ekonomi, politik, budaya, lingkungan dan lain semacamnya. Hal itu penting karena menunjukan kompetensi si penulis dan menyajikan alur berfikir yang jelas untuk siapa saja yang membaca.

Prinsip dasar penyajian informasi adalah pembentukan opini pembaca, jadi amat jahat bila penulis tidak mempedulikan pembentukan pola pikir pembaca setelah menelaah mentah-mentah isi tulisanya. Alih-alih sebuah tulisan menjadi pelecut jiwa kritis malah sekedar bikin orang jadi sarkanis atau suka nyinyir. Alih-alih membentuk opini masyarakat agar lebih kritis terhadap kebijakan pemerintah malah yang terbentuk adalah masyarakat yang hobi berkomentar nyeleneh di media sosial dengan akun fake (palsu) pula.

Tuntutan Viewer Berujung Kontentifikasi Akut

Faktor paling dominan penyebab persoalan ini adalah tuntutan untuk memunculkan sebuah konten tulisan yang hype. Masyarakat barat mengenal sebutan social climber yang diartikan sebagai perilaku orang yang berusaha memanfaatkan keresahan sosialnya untuk meningkatkan eksistensi. Mental social climber turut menjerat penulis-penulis pemula dengan harapan menerima popularitas dan sejumlah reward dari portal berita, maka di dalam proses pengerjaanya mengusahakan adanya sesuatu yang mencolok, sesuatu yang berbeda dari pendapat umum. Perilaku tersebut dinamakan dengan Kontentifikasi akut atau bahasa kasarnya “perilaku kejar/demi konten”.

Modernitas akses berita memang berperan memudahkan distribusi informasi ke pembaca, namun di lain pihak, sistem budgeting news by viewer telah merubah banyak hal dan kini jadi pemicu dorongan kontentifikasi akut . Sudah semenjak lama informasi telah diindustrikan, hanya saja pola komersialisasinya belum merubah jiwa berkarya para pembuat konten seperti sekarang ini. Kini nilai sebuah tulisan diukur dari banyaknya pengunjung situs, tak peduli apakah isi dapat dipertanggungjawabkan atau tidak. Tak sedikit portal sajian tulisan mematok harga sebuah karya tulis dengan sistem minimal viewer. Semisal sebuah tulisan akan dihargai sepuluh ribu rupiah untuk setiap seribu pengunjung situs, atau bisa juga melalui penghitungan poin, semisal seribu viewer setara dengan satu poin dan amat miris ketika diberikan batas minimal poin juga untuk sebuah reward dengan jumlah yang sebetulnya tak manusiawi. Apabila kita juga cermat mengikuti perkembangan aplikasi di situs-situs penyedianya, ada banyak dijumpai aplikasi bertemakan news reader atau aplikasi baca tulisan berhadiah. Aplikasi ini menawarkan penggunanya untuk membaca, mengunjungi situs ataupun membagikan tulisan dengan imbalan berupa nominal uang dan terkadang dapat berupa pulsa seluler. Hadirnya jenis aplikasi ini telah cukup menggambarkan bagaimana saat ini industri penyajian tulisan berangsur semakin maniak materialistis atau dengan kata lain industri media kini semakin kapitalistik.

Kekurang Mahiran Melahirkan Satire Segar

Apakah saat ini jagad literasi kita minim kemahiran melontarkan satire segar? bisa jadi iya. Mungkin niatnya baik, ingin melahirkan tulisan dengan isi kritik yang tajam dan terarah tapi sayangnya tidak dibarengi dengan keluasan perspektif maupun dukungan literasi. Berseliweran konten penyajian yang terkesan hanya “menguliti” kesalahan orang secara seporadis. Meromantisir blunder kebijakan maupun kesalahan pengucapan tokoh politik untuk digubah menjadi sesuatu cibiran menarik. Akhirnya kita menemukan jawaban logis mengapa jagad sosial memunculkan pengistilahan seperti “menggoreng isu” atau “media tukang goreng isu”, amat logis dilakukan sebagai respon kaidah bahasa untuk menggambarkan kenaifan dari sebuah fenomena.

Dapat Dikendalikan Oleh Kesadaran Literatif

Sebagai contoh, kemunculan macam bentuk meme dengan semua unsur satir dan sarkas di dalamnya harus diakui memang bagus, apalagi di tengah iklim Demokrasi liberal yang dalam prakteknya selalu diiringi keterbukaan informasi dan kebebasan berekspresi. Begitupun dengan macam bentuk varian penulisan bergaya ringan dan milenialis, amat digandrungi dan diterima oleh pemirsa pembaca karena sangat informatif. Tiga tahun belakangan ini juga bermunculan portal penulisan yang menyodorkan berbagai genre tulisan dengan kedalaman literasi yang bagus. Di beberapa kesempatan bahkan acap kali sebuah tulisan opini dengan nuansa kritik dibalut dengan menggubah tokoh dan kisah di buku-buku populer sebagai persamaan. Inilah yang barangkali patut untuk dicontoh.

Beranjak dari segala persoalan dunia kepenulisan, ada baiknya kita coba pertahankan dan tekankan analogi paling mendasar relasi media dan khalayak pembaca/masyarakat, jangan sampai berubah, yaitu media adalah guru dan masyarakat adalah murid, jangan kemudian keliru dengan kecenderungan mengartikan media sebagai produsen barang dan masyarakat adalah konsumen. Analogi yang salah barang tentu akan melahirkan silogisme yang juga salah, dapat berakibat pada pemakluman akan ragam kemrosotan nilai tulisan. Teori ekuilibrium pasar jangan dibawa-bawa sampai berlaku juga pada persebaran kebutuhan akan informasi. Menulis adalah profesi kemanusiaan, artinya menulis juga soal mengartikulasi nilai-nilai hidup, menyajikan gagasan-gagasan moral.

Kesimpulannya adalah paparan budaya sinisme yang menghinggapi kemasan penyajian tulisan seperti ini hanya akan melahirkan pemahaman-pemahaman dangkal penyebab pertengkaran di masyarakat, mengundang perdebatan tak berujung. Mengemas tulisan dengan gaya ringan agar tidak kaku memang bagus untuk mengisi ruang gairah media yang kini semakin lugas. Namun ada baiknya tetap memberi tempat khusus untuk validitas literasi dan pertimbangan kecenderungan psikologis masyarakat, jadi tak melulu isi tulisan hanya berisikan konten-konten cibiran yang terkesan dipaksakan. Masyarakat berhak mendapat sajian tulisan yang berbobot, edukatif dan literatif agar nantinya lebih bijaksana dalam menyikapi persoalan.

Oleh : Bisma Bayu Aji

Sumber :

tekno.tempo.co/amp/581120/bersikap-sinis-itu-merusak-otak (diakses pada 13 Mei 2020)

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sinisisme (diakses pada 15 Mei 2020)

http://yohanessehandi.blogspot.com/2013/11/gaya-penulisan-artikel-opini.html?m=1 (diakses pada 15 Mei 2020)

https://qwords.com/blog/apa-itu-clickbait/ (diakes pada 15 Mei 2020)

https://m.mediaindonesia.com/read/detail/124901-opini-publik-dari-media-sosial (diakses pada 15 Mei 2020)

About the author

Bisma Bayu Aji
Freelance

Penggiat kajian Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik, memperoleh gelar Sarjana di bidang Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan dari Univesitas Tidar tahun 2019, menaruh minat pada Sastra dan dunia kepenulisan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *