Protokol Kesehatan untuk Siapa?

Protokol Kesehatan Covid-19

Source: pexels.com/@gabby-k

Penulis mengisi “waktu liburan” ini dengan berbagai kegiatan, salah satunya adalah memantau linimasa media sosial serta media massa macam televisi. Setelah melakukan beberapa kegiatan “produktif” yang penulis sebutkan sebelumnya, penulis menemukan satu hal yang unik dan cenderung membuat penulis agak miris. Yap, sesuai judul artikel ini, penulis menemukan berbagai bentuk sosialisasi yang pemerintah sebut sebagai “sosialisasi protokol kesehatan”. Nah, mungkin pembaca bertanya “ada sosialisasi protokol kesehatan kok miris?” Eits, sabar dulu kawan. Bakal penulis jelaskan kok di paragraf selanjutnya. Dibaca terus ya lur…

Pertama-tama, penulis ingin bilang bahwa ya tidak ada yang salah dari sosialisasi protokol kesehatan. Ya walau pun protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah, penulis nilai tidak maksimal untuk menghambat penyebaran COVID-19 tapi ya itu biar jadi diskursus untuk lain hari, supaya penulis ada ide untuk membuat tulisan lagi hehe. Memang, tugasnya pemerintah ya melindungi segenap warga negaranya. Kan itu juga yang disampaikan di Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Selanjutnya, penulis juga ingin memantik pemikiran kritis dari kawan-kawan pembaca sekalian. Kawan-kawan merasa ga sih sosialisasi yang kawan-kawan lihat di media, baik yang disampaikan oleh pemerintah maupun swasta, itu hampir semuanya terasa mirip dalam satu hal? Kalau penulis sih merasa sosialisasi yang dilakukan pemerintah dan swasta hanya menyasar warga perkotaan sebagai target sosialisasi.

Kenapa penulis bilang begitu? Penulis melihat barbagai sosialisasi protokol kesehatan, terutama yang disiarkan oleh media arus utama seperti televisi, hanya menjelaskan bagaimana menerapkan protokol kesehatan di mall, bandara, dan kendaraan umum. Penulis merasa sosialisasi protokol kesehatan semacam itu kurang menyentuh saudara-saudara kita yang di pedesaan. Penulis tidak pernah melihat tuh ada sosialisasi protokol kesehatan untuk masyarakat yang beraktivitas di pasar tradisional, sawah, peternakan, atau hutan. Apa pemerintah merasa warga pedesaan tidak memiliki resiko terpapar COVID-19? Atau warga pedesaan dirasa tidak layak mendapat sosialisasi protokol kesehatan? Layak didiskusikan.

Di masa krisis seperti ini, kehadiran negara sangat lah penting. Kehadiran negara juga harus merata dan adil untuk semua warganya. Sosialisasi protokol kesehatan adalah salah satu bentuk kewajiban negara terhadap warganya. Sangat lah tidak bijak apabila sosialiasi protokol kesehatan ini hanya menyasar sebagian kalangan. Terakhir, penulis berharap, mungkin kawan-kawan pembaca bisa memberikan wawasan yang lebih. Mungkin kawan-kawan mendapat sosialisasi protokol yang lebih relevan bagi warga pedesaan seperti protokol kesehatan untuk beraktivitas di sawah atau pasar tradisional? Sila bagikan di kolom komentar ya. Sekian, semoga tetap sehat kawan-kawan!

About the author

Dimas Wahyu Pratama
Kontributor Tetap at ID Student Outlook

Dimas Wahyu Pratama, S.Pd atau lebih dikenal dengan Dimas adalah salah satu penulis tetap di ID Student Outlook. Bujangan yang cukup dikenal di prodi B. Inggris UMM ini sedang dalam proses mencari jati diri. Berbagai macam pekerjaan sudah beliau geluti dari menjadi penerjemah, staf administrasi kampus hingga sesekali menulis seperti sekarang ini. Semoga segera menemukan apa yang beliau cari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *